Behind: Impossible

“Pertemuan yang sia sia itu tidaklah benar adanya, selalu ada alasan yang tak terduga dibalik mengapa kita bisa dipertemukan, entah itu hanya untuk sekedar saling sapa, mengenal atau pergi begitu saja. Dan bisa saja hal itu yang menjadikan kita untuk tetap ada.”
-Keken
Keken menghela nafas lelah, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, hanya tinggal menyapu dan Keken akan menyelesaikan kekacaun yang terjadinya di kamarnya hari ini. Di tengah menyapu, Keken mendengar gemerincing dari sampah sapuannya. Awalnya Keken berpikir bahwa itu hanyalah sisa barang pecah yang terbuat dari alumunium atau besi namun semakin lama suara gemerincing tersebut senada dengan suara sapuannya. Penasaran, Keken mencari benda yang mengeluarkan suara gemerincing tersebut dan menemukan gelang dengan bandul kupu –kupu.
“Gelang?” monolog Keken. Keken mengamati gelang tersebut, rasanya tidak asing dengan gelang yang kini digenggamnya.
“Punya Mala atau Kirana nih, entardeh gue Tanya mereka.” Ucap Keken pada dirinya sendiri. Agar tak lupa, Keken memakai gelang tersebut dan segera menyelesaikan sapuannya.
Keken kembali melihat jam, dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. “Astaga, udah jam segitu aja, gue belum sempat belanja buat besok.” Ingat Keken pada dirinya, dengan tergesa Keken mencepol rambutnya asal, memakai jaket seadanya dan bergegas pergi sebelum minimarket langganannya tutup. Jarak minimarket yang Keken tuju dan kos – kosanya tidaklah terlalu jauh, namun cukup untuk membuat Keken membakar beberapa kalorinya kali ini.
Dengan nafas tersengal dan rambut yang berantakan Keken sampai di depan minimarket, terlihat Opet, salah satu karyawan minimarket yang merangkap menjadi teman Keken tengah membuang sampah.
“Be- be- Belum tutup kan?” ujar Keken terputus – putus sambil mecoba kembali mengatur nafasnya yang tersengal akibat berlari.
“Belum,” Jawab Opet, “Lu niat ngegembel Ken? Sorry, gue lagi nggak punya uang receh,” lanjut Opet yang melihat penampilan Keken.
“Untung temen, kalo nggak udah gue jual lu!” jawab Keken bercanda.
“Sejak kapan kita jadi temen?” Tanya Opet jenaka.
“Suka suka lu aja deh pet, capek gue” pasrah Keken yang kini tengah lesahan di teras minimarket.
“Cepet belanja sana, entar lagi kita mau tutup ini akhir bulan kita mau tutup buku,” Ujar Opet,”Lagian, tumben banget belanja malam – malam gini, kenapa nggak besok aja?” lanjut Opet lagi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: