Behind: Impossible

-Tertawa lepas adalah cara sederhana untuk merasa bahagia dan terlihat baik – baik saja-
-Keken
Keken mendapati ruang kantornya kosong, tidak seorang pun ada disana, dan tidak ada Kirana. Apakah Keken salah liat tadi, namun mata Keken masih normal untuk mengetahui bahwa yang ia lihat tadi benar – benar Kirana. Keken mencoba menghubungi ponsel Kirana lagi, masih belum aktif membuat Keken menghembuskan nafas kesal. Tidak bisakah Kirana mengangatkan panggilannya dan mengatakan bahwa ia baik – baik saja agar Keken tidak terlalu khawatir, belum lagi Keken manjadi semakin tidak tenang sejak Kirana menceritakan insiden yang ia alami bersama Danu membuat Keken semakin panik bahwa Kirana tengah dalam bahaya, lagipula ketidakhadiran Danu hari ini membuat Keken samakin takut bahwa Kirana akan celaka nantinya.
Kirana menuju lift untuk turun kembali ke lantai bawah, namung sayangnya lift tersebut sedang dalam pemeriksaan. Dengan terpaksa, Keken menuju tangga darurat dan berharap agar dirinya tidak terlambat menjumpai Kirana di lantai bawah jika Kirana masih ada disana. Keken menuruni tangga dengan berlari, hampir beberapa kali ia ingin terpeleset dari anak tangga, hingga dirinya dikejutkan dengan seseorang yang menangis di salah satu anak tangga. Keken mengenali bahwa itu Kirana, namun untuk memastikan Keken memanggilanya.
“Kirana?” panggil Keken, merasa terpanggil Kirana mendongkak dan mendapati Keken di belakangnya. Melihat bahwa itu benar – benar Kirana membuat Keken bernafas lega, dan segera duduk di samping Kirana.
“Lo tahu nggak sih seberapa panik dan khawatirnya gue nungguin lo balik dari pagi, gue pikir lo kenapa – kenapa tau nggak!” omel Keken pada Kirana, “Dan sekarang kenapa lo nangis, siapa yang buat lo nangis? Bilang gue?!” lanjut Keken sambil menangkup wajah Kirana yang kini memerah dengan mata sembab.
“Keken…” Ucap Kirana sambil menangis dan memeluk Keken, tangis Kirana semakin kencang membuat Keken bingung, Keken menepuk – nepuk pelan dan mengelus punggu Kirana berusaha menenangkan Kirana yang semakin menangis.
“Kenapa Kir?” Tanya Keken, “cerita sama gue, biar gue bantuin kalo emang ada masalah,” suruh Keken pada Kirana, namun Kirana hanya menggelangkan kepalanya di pelukan Keken dan semakin mengangis keras.
“Gue..” ujar Kirana sambil terisak, “Gue merasa semuanya nggak adil Ken,” lanjut Kirana sambil menangis keras.
“Kenapa saat gue berjuang buat orang – orang yang gue sayang, gue harus kehilangan orang yang sayang sama gue Ken?” ucap Kirana,”gue pengen bahagia sama orang yang sayang sama gue, gue juga pengen ngelindungin orang – orang yang gue sayang, kenapa gue selalu di suruh milih buat salah satunya aja Ken, gue pengen bahagia, tapi kenapa Cuma rasa sakit betubi – tubi yang datang, gue bahkan bertanya – tanya gimana rasa sakit itu sekarang Ken, gue capek!” lirih Kirana terisak di pelukan Keken, mendengarnya entah mengapa Keken juga menjadi sedih, turut merasakan apa yang dirasakan Kirana, Keken semakin erat memuluk Kirana, berharap Kirana tahu bahwa banyak orang yang menyayangi Kirana.
“udah Kir, banyak orang yang sayang sama lo, ada gue, ada Sanu, ada Mala, ada temen – temen yang lain yang selalu sayang sama lo, jangan ngerasa sendirian, selalu ada gue buat lo,” ujar Keken pada Kirana, “lo berhak bahagia Kir, jangan sedih dong gue ikutan sedih nih, jadi pengen mewek,” ucap Keken dengan nada jenaka bermaksud menghibur Kirana.
Kirana menatap Keken dengan senyum kecil, melihat senyum kecil dari Kirana, membuat Keken tidak tahan untuk menggoda Kirana, “ihh senyum nih, masa kecil doang senyumnya, yang lebar dong kek gue nih,” jail Keken sambil tersenyum lebar.
“Apaan sih Ken,” ujar Kirana mencoba menyembunyikan senyumnya walau masih sedikit terisak kecil,
“Masa? Malu ya? Apasih malu – malu, biasa juga malu – maluin, senyum dong Kiranaa,” ujar Keken menarik kedua pipi Kirana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: