>

Behind: Impossible

Behind: Impossible

“Manusia itu sulit untuk dipahami, bisa saja ia bilang ‘iya’ nyatanya ia tak pernah percaya”

-Keken

Keken dan Kirana pulang bersama, setelah jam kantor mereka usai. Layaknya anak TK, Keken dan Kirana bergandengan tangan sambil meminum susu satu sama lain, yang mereka beli tadi di depan toko yang berada tak jauh dari kantor mereka.

“Hmm…Kirana? Gue boleh Tanya nggak?” Tanya Keken pada Kirana, Keken ingin memastikan beberapa hal yang membuatnya penasaran.

“Apa? Tanya aja,” ujar Kirana.

“agak banyak sih yang pengen gue tanya, tapi maf ya kalo beberapa ngeganggu privasi lo, jawab yang menurut lo bisa jawab aja!” ujar Keken, Kirana hanya mengangguk menanggapi Keken.

“Ah, jadi gini, gue Cuma denger nih ya, lo kan anak manejer di kantor, kenapa lo malah tinggal sama gue?” tanya Keken, karena sejujurnya sedari awal Keken sangat penasaran, jika Kirana seorang anak yang tercukupi mengapa ia mau tinggal bersama Keken yang serba pas – pasan.

Mendengar pertanyaan Keken, Kirana tertawa kerasa, “Gue nggak tau ya itu gossip datangnya dari mana gue anak manejer di kantor, nggak sama sekali, Big No.” tegas Kirana. “gue punya satu orang yang selalu ngebantuin gue dulu, dan sekarang gue punya lo,” ujar Kirana tersenyum manis.

“Dih…”sewot Keken, “Kek gue ikhlas aja nampung lo di kos gue.” Ujar Keken.

“Ikhlas nggak lo?” tanya Kirana.

“Enggak,” jawab Keken cepat.

“emang gue peduli,” ucap Kirana lagi sambil tertawa.

“Oke, terus nih ya, lo nggak punya keluarga sama sekali ya Kir?” tanya Keken. Mendengar pertanyaan Keken, Kirana mematung dan menatap Keken lekat.

“gue punya Ken, tinggal dia satu – satunya tapi dia nggak tau kalo gue ada, bahkan selalu ada disisinya.” Jawab Kirana sendu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: