Behind: Impossible

“Percaya apa yang kau ingin percaya, abaikan jika menurut mu itu mengganggu. Hidup itu pilahan dan akibat dari pilihan hanya ada sebuah kenyataan atau penyesalan.”
-Kirana
Sanu mengikuti Kirana, sejujurnya Sanu sangat ingin menyaksikan film favoritnya, namun melihat gelagat Kirana yang aneh membuat Sanu tertarik untuk mengikutinya. Dari awal, Sanu sudah seharusnya curiga pada Kirana yang tiba – tiba saja membatalkan aksi mereka yang ingin menonton bersama dan menyuruh dirinya, Dafa, dan Keken untuk menonton film masing – masing yang ingin mereka tonton.
Sanu terus mengikuti Kirana diam- diam, bahkan untuk melancarkan aksi menguntitnya Sanu sampai membeli sebuah topi di pinggir jalan, Sanu hafal jalan yang dilalui Kirana ini, jalan menuju bandara dan benar saja Kirana menuju bandara. Sanu bertanya – tanya, ada urusan apa Kirana hingga ia harus ke bandara malam – malam seperti ini.
Kirana duduk di salah satu ruang tunggu bandara, dan memandang waktu – waktu keberangkatan layaknya sebuah film, Kirana menatap hal itu dengan tatapan serius, tak jauh dari tempat duduk Kirana, Sanu turut duduk disana. Sanu melihat Kirana menangis, untuk pertama kalinya Sanu melihat Kirana menangis, anehnya Kirana meredam tangisnya. Lama menunggu, Kirana tak kunjung beranjak dari tempat duduknya bahkan sekalipun Kirana tak pernah mengalihkan tatapannya dari layar pengumuman keberangkatan pesawat.
Sanu melihat Kirana memeriksa arlojinya, dan Sanu pun turut melihat arlojinya, menunjukkan jam setengah sebelas malam. Sibuk memperhatikan Kirana, Sanu tak sadar bahwa dirinya dan Kiranalah yang kini tersisa di ruang tunggu bandara. Kirana menatap lekat Sanu, marah sekaligus kesal karena Sanu menguntitnya. Sanu melihat Kirana mendekatinya.
“Nggak ada kerjaan lain selain ngunti gue?” Tanya Kirana kesal, Sanu hanya diam, menatap lekat wajah Kirana, matanya sembab sehabis menangis, pipinya memerah dan masih terdapat beberapa bercak air mata tersisa di wajahnya. Sanu tidak menjawab pertanyaan Kirana, malah memberikan Kirana sebuah sapu tangan.
Kirana hanya menatap sapu tangan yang diberikan Sanu, tak berniat untuk menerimanya. Tau Kirana tidak berniat untuk menerima sapu tangan yang ia berikan, Sanu mengambil lengan Kirana dan memaksa Kirana untuk menerimanya lalu meninggalkan Kirana begitu saja. Kirana merasa kesal dengan tingkah Sanu dan benar – benar merasa benci terhadap Sanu.
“Lo nguntit gue karena soal Danu kan? Gue nggak salah, gue nggak pernah berkaitan sama Danu, gue Cuma pengen ngelindungin Keken, itu doang. Apa gue salah Sanu?” Teriak Kirana kala Sanu mulai menjauhinya, mendengar perkataan Kirana, sanu menghentikan langkahnya.
“Gue tau lo tau tentang gue sebenarnya, lo tau gue Sanu! Tapi kalo ini masalah Danu, gue bener – bener nggak tahu apa – apa, Rena ninggalin Danu karena Danu memang egois!” Teriak Kirana lagi dengan nafas ter-engah – engah.
Sanu tidak tau maksud Kirana, apa yang dimaksud Kirana dengan Danu, dan siapa Rena. Apa Danu memiliki hubungan dengan Kirana. Sanu berbalik dan mendekati Kirana lagi, Sanu menarik lengan Kirana paksa mengikutinya, Kirana memberontak pada Sanu, namun semakin Kirana memberontak semakin kuat Danu menyeret Kirana.
“Lepas,” Ronta Kirana, Sanu melepas lengan Kirana saat mereka sudah berada di gang sempit yang tidak jauh dari bandara, Kirana baru pertama kali melihat gang ini, padahal Kirana sering berlalu – lalang dibandara.
“Apa yang lo maksud dengan Danu, dan siapa Rena?” tanya Sanu serius pada Kirana.
“Denger ya, gue nggak mau Keken terlibat sama semua ini! Cukup gue, jangan sampe Keken kenapa – kenapa!” Peringat Kirana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: