Behind: Impossible

“Takdir memang terlalu sering bermain – main, namun takdir tak pernah segan untuk berubah pada mereka yang ingin sebuah akhir berbeda, entah itu kisah untuk sebuah akhir bahagia atau sebaliknya”
-Keken
Dafa mengoleskan salep penghilang nyeri pada Keken, beberapa kali Keken merintih kesakitan dan meringis pelan karena Dafa menekanannya dengan sedikit kasar, Keken tidak menyangaka, bahwa Danu mencekiknya dengan sangat kuat.
“Daf,” panggil Keken, Dafa menoleh pada Keken dan menampilkan raut wajah seolah bertanya ‘ada apa’.
“Apa bener Kirana itu Veera?” tanya Keken, Dafa tersenyum menenangkan sembari menggenggam tangan Keken hangat.
“Lo nggak boleh lupa dengan ucapan lo di kafe, ada alasan yang pasti Veera sembunyiin kenapa di harus bohong dan sembunyi dari lu, mungkin lo nggak suka dengan caranya, tapi menurutnya ini yang paling baik. Kita juga nggak bisa menyalahkan dia atau sembunyi di kalimat ‘niat lo udah bener tapi cara lo yang salah’. Kalo lo emang marah dan kecewa, marah ke dia , kasih tau ke dia kalo lo kecewa, kasih tau ke dia apa yang buat lo kecewa, tapi setelahnya lo harus, marah dan kecewa yang disimpan lama – lama itu nggak ada guna, lo Cuma sia – sian waktu lo yang harusnya bisa lo buat jadi gudang kenangan sama dia, dan gue tahu, lo nggak mungkin ngebenci orang yang paling pengen lo lindungi, dan lo yang paling tahu diri lo dan alasan untuk semua perbuatn lo,” jelas Dafa memberi pengertian pada Keken.
Mendengar perkataan Dafa, Keken tersenyum manis, setelahnya Keken memejamkan matanya, menenangkan pikirannya yang kacau balau. Keken bertanya – tanya kemana dirinya yang sedari dulu ia siapkan jika suatu saat nanti ia mendengar kebenaran paling menyakitkan, bukannya seharusnya dirinya sudah siap, lalu mengapa sekarang ia seperti keong yang ingin bersembunyi di cangkangnya.
Keken menangis dalam diam, hanya air mata yang kini dapat ia ungkapkan pada apa yang ia rasakan kini, bukan karena ia kehabisan kata – kata atau ia tidak bisa menjabarkan perasaanya. Ia hanya terlalu lelah dan tidak ingin lebih lelah dari ini lagi. Dafa yang mengetahui Keken menangis hanya diam, dan terus mengendarai mobilnya menuju alamat yang diberikan Danu tadi padanya, bukan karena Dafa tidak peduli pada Keken, sekarang Dafa tahu seberapa hangat pun dirinya memeluk Keken dan seberapa banyakpun kata – kata penyemangat yang ia lontarkan itu tidak akan ada gunanya, karena obat hati yang paling baik itu bukan datang dari orang lain melainkan diri sendiri, karena tidak ada yang memahami kita lebih baik dari diri kita sendiri.
***
Keken melihat Kirana tengah tertidur, ah, Keken lupa bahwa itu adalah Veera kakaknya, bodohnya Keken selama ini tidak menyadari bahwa orang yang selalu ia cari bahkan sudah ia dengar kabar kematiannya tengah tertidur lelap di sampingnya. Masih di beranda rumah dan dibawah sinar rembulan yang kini remang – remang, Keken menatap rakus wajah Kirana, menuntaskan rasa haus rindunya. Mendengar penjelesan Danu, Keken mengerti apa yang kini terjadi, kali ini dirinya yang paling bodoh, secuil pun informasi yang ia dengar dari Sanu tadi tak pernah ia dapat, bahkan Dafa yang notabenya bukan siapa –siapa untuknya saat ini mengetahui itu dari lama bahkan lebih dari Keken sendiri.
Jejak bekas air mata masih terdapat di pipi Kirana, dengan pelan Keken mengusapnya, guna menghapus jejak air mata tersebut, siapa sangka kerena ulahnya itu Kirana malah terbangun dan terkejut mendapati wajah Keken.
“Keken?” tanya Kirana, “Lo ngapain di sini?” Tanya Kirana, “Dan gimana lo bisa kesini?” tanya Kirana lagi.
Keken hanya diam menatap Kirana, tak menjawab satupun pertanyaan Kirana. Mata Keken berkaca – kaca menahan segala tangis yang ingin ia tumpahkan sedari tadi. Kirana yang menatap Keken segera memeluk Keken dan bertanya, “Lo kenapa Ken? Kenapa nangis? Ada yang nyakitin lo?” tanya Kirana khawatir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: