>

Untuk ayah tercinta, Aku ingin bernyanyi, walau air mata dipipiku

Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa, walau hanya dalam mimpi

-Ayah, Rinto Harahap

>>> *** <<<

Sore itu adalah hal yang paling tidak disukai Cipta, karena Cipta hanya dapat menyaksikannya sesaat saja. Bagaimana indahnya langit jingga dengan semburat merah, burung – burung terbang kembali pada sarangnya, hiruk pikuk jalanan yang sesak kendaraan ingin pulang, menuju rumah yang mereka idamkan. Sore itu juga istimewa, hanya di Sore hari kita dapat melihat mereka yang letih dan lelah namun merasa bahagai, karena apa yang mereka kerjakan usai, layaknya memenangkan lotre walau hadiahnya tidak seberapa.

Seperti biasa, setiap Cipta pulang, akan didapatinya ayah yang tengah memakirkan Pasto, nama motor butut kesayangan ayah, dan bunda yang tengah menyapu halaman rumah. Lalu, akan ada adegan dimana, ayah ingin memeluk bunda tapi bunda tidak mau karena katanya ayah bau selepas bekerja, padahal sering Cipta cium ayahnya masih wangi ketika pulang bekerja, memang dasar bunda saja yang tidak mau, atau Cipta lupa jika bunda selalu merasa malu bersama ayah jika ada Cipta melihatnya.

“Cipta pulang!!” Teriak Cipta, mengalihkan atensi ayah dan bunda padanya, dengan senyum hangat bunda menyambutnya.

“Cipta mandi gih, ajak ayah juga,” Suruh Bunda pada Cipta dan Ayah.

“Cipta kan udah gede bunda, masa mandinya ngajak ayah sih!” Protes Cipta yang dihadiahi pelototan tajam oleh ayah karena lontaran kata Cipta.

“Yakali Cipta ayah mandi sama kamu, kamar mandi di rumah itu ada dua loh!” Ujar Ayah.

“Mana tau aja,” Jawab Cipta segera memasuki rumah dengan wajah tengil setelah berhasil membuat ayah kesal, sedang yang menjadi korban Cipta hanya menghela nafas, menggelangkan kepala, dan berpikir mengapa anaknya bisa seajaib itu, dasar Cipta.

***

Detik – Detik menuju magrib adalah waktu dimana Cipta menyukai waktunya bersama Ayah, sekedar duduk di kursi depan rumah buatan ayah, melihat anak – anak berlarian menuju masjid, memperebutkan siapa yang kali ini harus adzan. Dan berbagi cerita tentang apa yang mereka lalui hari ini, bentuk dimana ayah dan Cipta menjadi teman seperjuangan.

“Hari ini ayah ketemu kakek tua yang untuk ayah hebat banget,” Ujar ayah memulai cerita, Cipta senang mendengar ayah yang mulai bercerita, karena cerita Ayah itu selalu unik, mungkin jika suatu saat nanti ayah harus berhenti bekerja dan menutup toko parfumnya, Ayah tidak perlu risau mencari pekerjaan lain, karena ayah tampak seperti pencerita handal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: