>

 

“Bermusik itu seperti berkaca, apapun yang dirasakan, mereka akan tahu setiap mendengar irama yang mereka hasilkan”

-Magenta

>>>>>*****<<<<<

Cipta menyelesaikan seluruh pekerjaannya saat hari sudah menjelang sore, sebelum benar – benar pulang Cipta menyempatkan dirinya untuk menarikan jemarinya diatas tuts – tuts piano tua. Kali ini musik yang dimainkan Cipta jatuh pada G Minor Bach oleh Lou Ni. Musik yang dimainkan Cipta kali ini menggambarkan kesedihan dengan tempo yang cepat, Cipta tidak sedih, hanya saja ia merasa risau. Cipta risau dengan segala hal, tentang dirinya, tentang sahabatnya, tentang kekasihnya, tentang orangtunya, banyak hal yang Cipta pikirkan namun tak dapat ia ungkapkan.

Mungkin perkataan lebih baik lelah melakukan sesuatu dibanding memikirkan sesuatu ada benarnya, setidaknya saat lelah melakukan sesuatu kita dapat beristirah lalu kembali baik – baik saja setelahnya. Sedang lelah memikirkan sesuatu, layaknya mencari solusi pada masalah yang tidak pernah ada. Cipta menghela nafas lagi, entah berapa kali dalam sehari Cipta meghela nafasnya keras.

Tok Shos berjalan tertatih dari balik tirai, mendengar musik yang dimainkan Cipta tentu saja Tok Shos tahu bahwa Cipta sedang tidak baik – baik saja. Mendengar langkah seseorang, Cipta berbalik dan menemukan Tok Shos yang berjalan kearahnya, segera Cipta dudukkan Tok Shos di kursi piano yang ia duduki tadi, dan mengambil kursi lain untuknya. Tok Shos menatap Cipta hangat, tak lupa dengan senyuman mata khas Tok Shos.

Tok Shos memainkan piano, musik yang tercipta tak pernah sekalipun Cipta dengar iramanya, mendengarnya Cipta seolah merasa bahwa musik itu tengah berkisah, mengalir pada setiap saluran telinganya, menembus segala pikirannya, membisikkan kata – kata seolah irama inilah kunci jawaban dari semua permasalahannya. Tak perlu risau, tak perlu juga kau pikirkan segalanya, biarkanlah begitu saja, karena yang datang untukmu tidak akan pernah melawatkanmu. Berbahagialah selama bisa, lupakan rasa sakit dan kecewamu sesaat, tertawa dan tersenyumlah, karena hidupmu bukan hanya sekedar untuk menangisi apa yang telah lalu. Belajar, bangkit, dan berdiri, temukan dirimu sekali lagi, karena tidak ada yang mengenalimu sebaik dirimu.

Mungkin jika irama itu bisa diterjemahkan, maka seperti itulah kira – kira artinya menurut Cipta. Tok Shos mengusap kepala Cipta sayang seperti yang biasa Tok Shos lakukan kala Cipta bersamanya, mungkin jika orang – orang melihat interaksi Cipta dan Tok Shos, pastilah semuanya mengira bahwa Ciptalah cucu Tok Shos sebenarnya, karena Tok Shos bahkan tak pernah sehangat itu pada Magenta.

“Cipta, kadang realita kehidupan itu menyakitkan, namun itulah kejujuran yang paling nyata. Tak peduli berapa banyak orang yang berekspetasi tinggi padamu, berapa banyak mereka yang menaruh harapan padamu. Jika pada masanya Cipta tidak bisa, ya, tidak usah.” Ujar Tok Shos menepuk punggung Cipta.

“Kita ini manusia Cipta, kita tidak bisa sesempurna apa yang diinginkan orang lain, bahkan pencipta kita sendiri tidak pernah terlalu memberatkan makhluk ciptaannya,” nasehat Tok Shos pada Cipta, tentu saja Tok Shos tau apa yang membuat Cipta risau, karena tidak ada yang lebih mengenali Cipta lebih dari Tok Shos mengenalinya.

“Cipta, yang perlu Cipta ketahui itu prosesnya, tentang hasilnya tunggu saja. Jika itu yang terbaik, Cipta pasti mendapatkannya, jika tidak, juga tidak masalah, masih banyak kesempatan dan hal lain untuk dicoba. Hidup itu seperti menjelajah Cipta, mencari pengalaman sebagai bekal. Setelahnya, kita hanya berbagi kisah pada mereka – mereka yang lebih muda dari kita, sekedar mengenang bahwa kita ini pernah ada dan pernah seperti mereka.” Jelas Tok Shos meyakinkan Cipta pada apa yang Cipta bimbangkan sekarang.

Cipta tersenyum mendengar ucapan Tok Shos, dengan langkah pasti Cipta mengambil tas dan selembaran yang membuat dirinya lelah berpikir sedari tadi. Dengan senyuman lebar, Cipta berlari keluar dari toko sepatu bekas itu, melambai dengan semangat pada Tok Shos. Sekarang, ada satu orang yang harus Cipta temui, kali ini Cipta harus berhasil membuat orang itu mengikuti perintahnya dan menanggukkan kepalanya kerena semua ini tentang masa depan Cipta.

***

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: