>

“Yang terlihat paling baik bisa saja yang paling terluka, karena tidak semua yang terlihat baik benar adanya bahwa ia baik – baik saja”

-Saka

>>>***<<<

Cipta mendorong sepedanya pelan, jika tadi ada Windi kali ini Cipta sendiri, membiarkan Windi menghabiskan waktunya bersama Saka. Cipta berharap dapat medengar hal baik dari Saka dan Windi tidak lama lagi, semoga sebelum ia pergi ke Vienna bersama Magenta, Cipta dapat mendengar kabar Saka dan Windi bersama.

Cipta memang mencintai Windi, sudah Cipta katakan bukan bahwa Windi wanita pertama yang memenangkan hatinya. Namun, Cinta tidak menjadi alasan Cipta untuk terus menahan Windi di sisinya, bukan karena Cipta menyerah, hanya saja Cipta tahu bahwa perlahan masing – masing dari mereka, entah itu Cipta ataupun Windi akan tersakiti, dan akankah lebih baik mencegah rasa sakit itu.

Tidak semua yang terlihat baik itu memang benar baik, kadang adakalanya yang terlihat baik malah yang paling terluka. Hari ini, bisa saja Windi dan Cipta tertawa bersama, memaksa masing – masing dari mereka menampilkan raut paling bahagia. Lalu bagaimana esok? Apakah semua akan sama, waktu pasti menujukkan kebenarannya, topeng yang mereka pakai akan usang dimakan masa, hingga tibanya mereka menunjukkan luka yang mereka simpan selama ini. Saat ingin menyembuhkan luka itu, mereka terlambat, luka itu terlanjur membusuk dan satu – satunya yang dapat mereka lakukan dan katakan hanya kata ‘aku menyesal’.

Sebelum Saka dan Windi pergi, Cipta sempat membisikkan kata yang Cipta harap setelahnya Saka tidak akan ragu mengambil langkahnya.

“Ka,” panggil Cipta, mendengar panggilan Cipta Saka menoleh, tidak menjawab, menunggu kalimat lanjutan Cipta.

“gue pernah denger seseorang bilang gini ke gue, Cinta itu bukan tentang selalu bersama, ada kalanya Cinta itu mengalah, kadang juga Cinta itu melepas, kadang juga Cinta itu hanya tentang bertahan dan sebuah kesetiaan. Kadang pula, Cinta itu hanya tentang kepercayaan. Sebenernya Cinta itu sederhana, cuma terkadang keadaan ngebuat Cinta itu terasa sulit, dan kita selalu stuck di langkah yang sama karena ragu – ragu.”

“Lo kesambet apa dah Cip, tiba tiba aja,” Ujar Saka dengan tawa canggung, kali ini, Saka berharap Cipta tidak sepeka itu, untuk apapun Saka ingin Cipta lupa pada kalimat yang ingin Cipta katakan, apapun itu, Saka harap Cipta lupa.

“Ka, gue suka Windi, gue cinta Windi, tapi bukan berarti Windi harus sama gue, kita itu penjelajah Ka. Mungkin, Windi bukan tempat pemberhentian gue, karena baik gue ataupun Windi sama – sama nunggu dan sama – sama bertahan supaya nggak ada yang merasa sakit hati. Nyatanya itu semua sia – sia Ka, gue sakit, Windi sakit, lo juga Sakit, kita kecewa dengan keadaan dan posisi yang serba salah!” Jelas Cipta tegas.

“Kalo ditanya Kecewa? Ya gue kecewa, tapi bukan berarti gue nggak bahagia, gue lega karena semuanya selesai. Kita semua bahagia dengan cara kita.” Cipta meghembuskan nafas lelah, berjalan meninggalkan Saka di belakangnya, sebelum benar – benar pergi, Cipta berbalik sesaat,

“Saka, terkhusus untuk lo, Cinta dengan arti mengalah nggak ada cocok – cocoknya,” dan setelahnya Cipta menyusul Windi masih dengan mengiring sepedanya, didepan sana, Windi tertawa, tawa Windi memang indah, apalagi senyumnya. Sayangnya, Cipta bukan manusia beruntung yang dapat selalu melihat tawa dan senyuman itu, karena sebanyak apapun Cipta mencoba, hanya Saka yang bisa, membuat Windi, wanita pujaannya, sebahagia itu.

***

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: