>

 

“Rumah itu seperti buku kosong, tiap lembarnya selalu ada kisah yang tertulis dengan sendirinya. Tidak perlu mewah, sederhana saja. Dengan pelukan hangat dan tawa sederhana, maka rumah itu adalah tempat dengan kisah paling bahagia”

-Cipta

>>>***<<<

Sudah seminggu sejak Cipta dan Windi kencan bersama, setelah sabtu itu, dengan kedatangan Saka dan pernyataan Cipta yang tiba – tiba, Windi dan Cipta tidak pernah terlibat komunikasi sama sekali. Cipta tidak masalah sama sekali, mungkin saja memang harus begitu, pastinya Windi dan Saka juga perlu waktu. Selain itu, Cipta jadi bertanya – tanya apakah hubungan Windi dan Saka masih sama, apa mereka baik – baik saja? Pasalnya tidak terdengar sedikitpun kabar tentang mereka.

Memikirkannya membuat aktivitas Cipta terhenti sesaat dan tersadar kala Jeje menepuk bahunya, “Ya si Ceunah, dibantuin malah ngebabuin.” Kesal Jeje yang melihat Cipta tidak melakukan apapun. Hari ini, Cipta sengaja menyuruh Jeje untuk datang ke rumahnya, membantu Cipta berkemas, karena besok adalah hari dimana Cipta akan berangkan ke Vienna bersama Magenta. Ingat dengan kompetesi Piano yang pernah Cipta bicarakan dengan Magenta, hari itu benar – benar terjadi.

“Nggak ikhlas?” Tanya Cipta melirik Jeje, “Bukannya nggak ikhlas, lo mah ah, terserah lah.” Sungut Jeje kesal dan segera bergelung di kasur Cipta.

“Nggak jelas,” Komentar Cipta.

Cipta kembali memusatkan perhatiannya pada barang – barang yang harus ia masukkan ke kopernya, tidak terlalu banyak dan lagipula semuanya hampir selesai. Dan ingatkan Cipta untuk memiting kepala Jeje setelah pekerjaannya selesai, sedari tadi, sejak datang ke rumahnya, Jeje hanya membaca dan membongkar koleksi buku komiknya, lalu menghabiskan camilannya bersama bunda sambil asyik merumpi ria.

Jeje dan bunda itu sangat klop, seringkali jika Jeje dan bunda sudah berbicara mereka lupa waktu dan kadang Cipta merasa seperti di anak tirikan oleh bunda, tidak dianggap dan tidak digubris. Jika bersama Windi, Cipta akan kalah oleh Saka, dan jika bersama bunda Cipta akan kalah oleh Jeje. Huft, kapan Cipta akan menjadi pemenang sesungguhnya.

“Je, JeJe, bunda punya kabar dari tetangga sebelah,” sahut bunda tiba – tiba di depan kamar Cipta, Cipta tersenyum masam, baru saja dipikirkan, bunda dan Jeje sudah bertindak.

“Wih…apa bun?” Tanya Jeje semangat dan segera bangkit dari tidurnya. “Jeje udah lama nggak denger kabar apa – apa, kebanyakan main ama Cipta jadi kek hidup di kegelapan bun, bawaannya suram.” Sambung Jeje pada bunda yang sekarang tengah duduk di kasur Cipta dan berhadapan dengan Jeje.

Mendengar perkataan Jeje ingin sekali Cipta menarik dua bibir Jeje itu dan mengikatnya sekencang mungkin dengan tali atom agar tidak mengeluarkan kata menjengkelkan lebih banyak lagi. Setelahnya bunda dan Jeje terus asyik merumpi ria di kamar Cipta tanpa berniat sedikit pun membantu Cipta mengemasi barang – barangnya.

“gini nih, kalo pisang ketemu monyet bawaannya kagak bisa pisah,” Gumam Cipta pelan, yang ternyata masih dapat didengar oleh Jeje dan Bunda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: