
“Jalan itu bukti nyata dari setiap kepingan hidup, pada debunya ia berkelana, pada basahnya ia merada segalah gundah, dan pada pinggirnya, ia menjadi mata dari setiap langkah”
-Cerita Tentang Cipta
>>>***<<<
Rumah Cipta benar – benar riuh pagi ini, terutama kamar Cipta, disana, Cipta dan Jeje terlihat sibuk dengan diri masing – masing, jam di dinding Cipta sudah menujukkan pukul sepuluh pagi, padahal keberangkatan pesawat Cipta dan Megenta ada di pukul setengah sebelas, setengah jam lagi sebelum berangkat dan Cipta belum sama sekali bersiap – siap.
Dilain sisi, Bunda dan Ayah Cipta tengah menahan tawa bersama Magenta yang menggelengkan kepalanya tak habis pikir, bagaimana bisa dua laki – laki itu begitu bodoh ditipu oleh Bunda. Jam sebenarnya masih menunjukkan pukul delapan, hanya saja bunda menjahili mereka dengan membuat Jam di kamar Cipta dua jam lebih Cepat, lalu berteriak dengan wajah yang sengaja dibuat sepanik mungkin.
“JEJE! CIPTA! KITA TERLAMBAT BERANGKAT!” Panik bunda. Jeje dan Cipta yang masih tertidur lelap terkejut dengan teriakan bunda, lalu tergopoh – gopoh tanpa tahu untuk apa.
“Kenapa bun? Kenapa?” tanya Jeje dan Cipta serempak pada bunda dengan raut tak kalah panik.
“Pesawat!!” Kesal bunda karena Jeje dan Cipta masih saja sempat bertanya – tanya. Sadar apa yang akan dimaksud bunda, Jeje dan Cipta segera bergerak cepat.
“JE! CEPETEN WOI!”
“CIP, HANDUK MANA?! HANDUK?”
“KOPER GUE MANA?!”
“KEMAREN TARO MANA?!”
“TARO SINI?!”
“AH… JE MINGGIR”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: