>

“Kadangkala yang mereka pikir akan pergi dari hidup mereka, menjadi salah satu orang yang malah kehilangan diri mereka.”

-Jeje

>>>***<<<

Lima belas menit lagi jam akan menunjukkan pukul setengah sebelas, dimana waktu keberangkatan Cipta dan Magenta menuju Vienna. Hari itu, semua orang terdekat Cipta dan Megenta turut mengantarkan kepergian mereka yang terdiri dari Ayah dan Bunda Cipta serta Jeje. Minus Tok Shos yang tidak hadir karena di luar kota bersama Mama Magenta, tapi Tok Shos juga sempat menghubungi Cipta dan Jeje saat di mobil tadi, memberi petuah – petuah tentang keselamatan yang harus selalu mereka ingat dan menitipkan Magenta pada Cipta.

“Cipta, titip Magenta. Jaga Magenta baik – baik,” Cipta menganggukan kepalanya semangat mendengar perkataan Tok Shos, namun sepertinya Tok Shos salah, dengan tingkah kekanakan Cipta, harusnya Ciptalah yang lebih dijaga, bukan Magenta. Walau Magenta perempuan, keahlian tekwondo Magenta jangan di anggap main – main, masih dapat Cipta rasakan pitingan Magenta terkahir kali di lehernya.

“Kalian harus semangat lombanya, jangan main – main. Jangan gugup, sebisanya aja. Yang penting kalian udah berusaha!” Ujar Bunda menyemangati Cipta dan Magenta, semua peserta yang berasal dari Indonesia ternyata tidak hanya Cipta dan Magenta, ada beberapa orang lagi, masing – masing dari mereka juga tengah bercengkrama bersama keluarga sebelum keberangkatan mereka.

“Jangan aneh – aneh di negara orang! Ikutin kata pembimbingnya disana! Paham?!” tegas ayah pada Cipta dan Magenta. Dengan gerakan siap dan tangan yang hormat Cipta menjawab tegas, “Siap Pak Bos!” sedang Magenta hanya tersenyum, Ayah memaklumi Magenta, karena setahu Ayah, sama seperti Cipta, Magenta adalah wanita bisu yang tak bisa bicara.

“Cipta gue pasti kangen lo…Huwaa,” Ucap Jeje dramatis sambil memeluk Cipta, “Ya elah Je, Cuma tiga hari doang juga!” sungut Cipta.

“Ck, lo mah gitu, nggak pernah ngertiin gue!” Kesal Jeje dan beralih menatap Magenta, “Gentaaa….” Ujar Jeje dramatis ingin memeluk Magenta, belum lagi memeluk, Jeje sudah mendapat pukulan keras di bahunya, sepertinya Magenta tidak suka dipanggil dengan nama panggilan ‘Genta’ oleh Jeje terlihat dari eksperesi wajahnya yang tertekuk lucu.

“HAHAHAHA!! MAMPUS JE!” Gelak Cipta keras mengundang perhatian lain dari orang – orang, sedang Jeje hanya merutuk kesal misah misuh di samping Ayah dan Bunda Cipta.

“Udah – udah,” Peringat Ayah, “Sana, yang lain keknya udah pada masuk, baik – baik Cipta! Magenta!” Ujar Ayah memeluk Cipta dan Magenta bergantian disusul dengan Bunda dan Jeje terakhir.

Jeje memeluk Cipta dan Magenta erat, sejujurnya Jeje ingin menangis sedari tadi, terlihat dari mata Jeje yang berkaca – kaca dan genangan di sudut matanya, yang Cipta dan Magenta yakin sebentar lagi akan tumpah dan benar saja Jeje menangis pelan tanpa suara dalam pelukan Cipta dan Magenta.

Magenta tersenyum tipis pada Jeje dan menghapus air mata Jeje pelan lalu tertawa kecil, “Jangan menangis, nanti kita pulang, tenang saja.” Bisik Magenta sangat pelan pada telinga Jeje, jika saja Jeje tidak menajamkan pendengarannya, maka bisa jadi Jeje juga tidak mendengarnya.

Berbeda dengan reaksi Magenta, Cipta sama sedihnya dengan Jeje, walau ia dan Jeje sering bertingkah laku seenaknya dan seringkali tidak akur, Cipta menyayangi Jeje segenap hatinya layaknya saudara, “Cengeng lo ah, gitu aja nangis!” komentar Cipta pelan memeluk Jeje erat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: