>

“Duka itu identik dengan air mata, sedang suka itu identik tentang tawa. Nyatanya prosa itu dusta adanya, karena tawa paling bahagia adalah duka yang paling parah.”

-Cipta

>>>***<<<

Cipta terkekeh miris, ada apa dengan orang – orang disekelilingnya, mengapa hanya suara tangis yang terus terdengar? Apakah tawa dan bahagia menjadi barang langka di era secanggih ini? Cipta muak, jika tadi ia menghindari Magenta, ia malah bertemu Phylan dengan keadaan yang serupa. Sekarang kemana lagi langkahnya menuntun, apa ia akan menemukan luka yang sama lagi?

“Cipta,”

Cipta yang merasa namanya terpanggil menoleh ke sekitarnya, namun tak dapat satupun orang yang bisa ia temui, apakah yang memanggilnya hantu? Berusaha berpikir positif, Cipta menepis pikiran anehnya dan duduk dibawah pohon rimbun yang ia tak tahu namanya, mirip pohon beringin namun terlalu indah untuk dikatakan sama.

“Astaga,” kaget Cipta kala menemukan Aksel dengan posisi terbalik menggelantung di ranting pohon. Melihat raut terjekut Cipta, Aksel tertawa.

“Dih, gitu aja udah kek mau diapain aja lo?” Cibir Aksel,

“Heh! Jaenuddin! Dimana – mana orang pasti kaget kalo lo gituin bego!”

“Gue nggak tuh!”

“Emang lo orang?!”

“Keparat!!!” Maki Aksel kesal pada Cipta, kehadiran Aksel mampu membuat pikiran Cipta teralihkan beberapa saat.

Aksel turun dari posisi gelantungannya, dan duduk di samping Cipta. “Kenapa turun? Cape ngecosplay jadi monyet,” Ujar Cipta memejamkan matanya damai.

“Mulut lo Cipta, kagak pernah dibersihin ya, karatan amat perasaan. Ini tuh namanya parkour.” Sungut Aksel kesal. Cipta tidak lagi menggubris Aksel, memilih untuk melanjutkan tidurnya. Apapun namanya, mau itu parkor, perker, apapun itu yang Cipta tahu itu hanya bentuk pengalihan ingin bunuh diri tapi terlalu takut mati, istilahnya simulasi menuai mati dini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: