>

“Kematian itu bukan pilihan melainkan keputusa tuhan, dimana kita hanya bisa pasrah pada keadaan. Dan sebelum kematian itu datang, jangan pernah menyesali apapun”

-Jeje

>>>***<<<

Jeje tertawa kecil, mini bus itu tidak main – main menabrak dirinya, kepalanya terasa sangat pusing, bahkan pengeliatannya mulai memburam. Belum lagi, Jeje merasa sekujur tubuhnya sakit, seolah kulitnya dipaksa terkoyak, bahkan Jeje tak lagi dapat merasakan tangan dan kakinya.

“Cipta,” panggil Jeje pelan. Ah, mengapa pertemuannya dengan Cipta malah berkahir menjadi drama menyedihkan seperti ini? Dirinya saja belum sempat meledak Cipta habis – habisan, dan Jeje ditipu oleh komik – komik superhero yang ia baca serta film action yang sangat sering sekali ia tonton.

Jika difilm – film atau buku – buku komiknya ditabrak oleh kendaraan tidaklah menjadi sesuatu yang berat, banyak adegan dimana tokoh utama masih bisa mengobrol banyak dengan pemain lainnya saat adegan tabrakan. Bahkan sebagian tokoh utama masih mampu berdiri dan tidak merasa sakit. Berbeda dengan Jeje, rasanya membuka mulut saja terlihat sangat sulit untuk Jeje.

“Je, sadar Je!”

Dapat Jeje dengar suara Cipta, suara Cipta kali ini bergetar, samar – samar dapat Jeje lihat mata Cipta yang memerah dengan nafas yang memburu. Cipta menggengam kuat tangan kanan Jeje. Barulah Jeje merasakan keberadaan tangannya. Jeje memakasakan senyum kecil pada Cipta, agar Cipta tidak terlalu khawatir, karena jika Cipta khawatir dan cemas berlebihan ia tidak akan dapat bernafas dengan benar dan Jeje tidak ingin melihat Cipta kesakitan karena sulit bernafas.

“Cip, kepala gue pening nih,”

“Cip, badan gue sakit,”

“Cip, kaki ama tangan gue mati rasa,”

“Cipta, Sakit Cip. Badan Jeje, sakit Cipta,”

Jeje ingin mengadu dan mengeluh pada Cipta, bagaimana kepalanya terasanya pusing bahkan ia mulai kehilangan pandangannya, bagaiamana sekujur tubuhnya sakit dan terasa linu, serta kaki dan tangannya yang tak dapat ia rasakan. Namun Jeje tak bisa, perkataanya hanya dapat ia ucapkan dalam hatinya.

Entah mengapa semakin lama Jeje semakin merasa sakit, jantungnya seolah ditarik paksa dari tubuhnya, dirinya seolah dikuliti hidup – hidup. Rasa sakit ini sangat sakit, Jeje ingin berteriak namun bahkan ia tak mampu untuk menggerakkan bibirnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: