>

“Kematian itu erat dengan penyesalan. Karena kehidupan selalu perihal menyia – nyiakan”

-Cipta

>>>***<<<

Kata Jeje, Cipta itu orang paling tabah, jarang banget marah, sekalinya marah cuma karena Bunda nggak bilang kalo Bunda pergi kencan sama Ayah. Cipta juga nggak akan pernah bisa marah dalam waktu yang lama, karena Cipta terbiasa untuk selalu berlapang dada. Kata Jeje, Cipta itu juga orang paling tulus, mungkin cara Cipta menunjukkan kasih sayang dan Cinta itu sedikit berbeda, walau tidak mengatakannya, percayalah bahwa Cipta menacintai orang – orang yang bersamanya dengan sangat besar. Kata Jeje, Cipta itu orang paling sederhana, yang bahagia cuma karena rujak lima ribu dipinggir jalan. Kata Jeje, Cipta itu orang yang paling mudah jatuh cinta, hanya mendengar suara tawa saja Cipta dapat jatuh cinta pada pandangan pertama. Kata Jeje, Cipta itu orang yang paling tegar, kalo ngeliat Cipta nangis, peluk Cipta, karena Cipta nggak akan suka kata – kata disaat saat itu

Kata Jeje—Mungkin jika ditanya siapa yang paling mengenal Cipta adalah Jeje, Jeje itu sudah seperti ekskoplodianya Cipta, tanya Jeje tentang Cipta maka akan Jeje jelaskan hingga ke akarnya. Orang – orang yang mengenal Cipta bisa jadi tidak mengenali Jeje, namun orang – orang yang mengenali Jeje tidak ada yang tidak mengenal Cipta. ekstensi kehadiran Cipta itu layaknya udara untuk Jeje, tanpa Cipta ia bukan apa – apa. Jeje itu bucin akutnya Cipta, tampang boleh sangar, namun jika sudah di depan Cipta, Jeje itu layaknya kucing yang diberi mainan. Semua perkataan Cipta ia turuti tanpa banyak bertanya.

Cipta tidak tahu apa yang ia lihat itu benar adanya atau tidak, disebrang sana tubuh Jeje tergeletak penuh darah, hampir semua bagian dari Jeje terliputi darah. Bunga Anyelir yang Jeje bawa bahkan tidak lagi putih, perlahan bunga itu memerah seiring waktu. Detik itu rasanya Cipta kehilangan setengah jiwa dan nyawanya, tubuhnya membeku, pikirannya hampa dengan sorot mata kosong.

Cipta merasa lemas dengan tubuhnya, namun ia harus kuat melangkahkan kakinya agar tiba di dekat Jeje. Tangan Cipta gemetar, tidak, seluruh tubuh Cipta bergetar.

“JEJE!!!” teriak Cipta keras.

Malam itu lampu jalanan seorang menjadikan Jeje bintang panggung dengan acting terluka, remang – remang bintang menjadi latar suasana yang terasa mencekam sekaligus menyedihkan, sepoinya angin malam mengantarkan suara syahdu penghantar kesedihan sebagai latar suara. Cipta terduduk di sampin tubuh Jeje, “Jeje,” panggil Cipta.

Dengan hati – hati dipapahnya kepala Jeje dipanggukannya, “Jee,” Panggil Cipta lagi menepuk pipi Jeje pelan, “Bangun, jangan tidur,” Ujar Cipta bergetar, suaranya getir tertahan, pandangan Cipta juga buram karena air mata.

“Je mana yang sakit?” tanya Cipta pelan terisak, “bilang Je, mana yang sakit? Bilang sama Cipta!” suruh Cipta lagi pada Jeje. “Tunggu ya Cipta telpon ambulan, biar Jeje cepat diobati. Ingat kita juga sering gini waktu kecil, iya kan Je?” ujar Cipta lagi. Dengan tangan bergetar, Cipta mengambil handphonenya, tangannya penuh dengan darah Jeje, Cipta tidak bisa mengendalikan gerakannya, berkali – kali Cipta menakan nomor sembarangan yang tidak pernah terhubung. Cipta melempar ponselnya kesal.

“Je, tunggu ya, Hape Cipta lagi nyebelin banget,” Adu Cipta dengan tangis tertahan. Cipta merasakan ada yang menggenang didekatnya, dan saat dilihat itu darah. Jeje terlalu banyak dipenuhi darah, membuat Cipta tak tahu berasal dari bagian tubuh Jeje yang mana darah tersebut datang.

“Jeje, bangun!” Ujar Cipta menepuk pipi Jeje perlahan, kali ini isakan Cipta terdengar jelas, air matanya berlomba untuk turun, “Mana yang sakit Je? Bilang Cipta, jangan diam aja. Biar Cipta tahu, mana yang sakit Je?” tanya Cipta memeluk Jeje erat.

Cipta melihat Jeje yang ingin memejamkan matanya, walau tidak kuat Cipta dapat merasakan genggaman tangan Jeje, “Jeje tahan dikit lagi, bentar lagi semuanya bakal baik – baik aja Je, jangan tidur dulu. Cipta yakin, bunda udah buat camilan banyak di rumah buat Jeje, tahan sakitnya sebentar Je,” Bisik Cipta pelan pada Jeje, isak tangis Cipta tak lagi ia tahan, suaranya pilu, isak yang harusnya keluar begitu saja, Cipta tahan agar Jeje tetap merasa baik, Jeje selalu bilang bahwa Cipta jarang menangis dan ia tak ingin menangis karena kehilangan Jeje.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: