>

 “Kejutan itu sampai, namun dia tak lagi ada untuk merayakannya.”

-Cipta

>>>>>*****<<<<<

Pakaian Cipta sedikit basah, tentang Ayah dan dirinya di halaman belakang semua berlalu begitu saja. Walau masih terasa sesak, setidaknya Cipta dapat merasa lebih baik dari tadi. hidungnya memerah juga dengan matanya yang tampak bengkak. Bahkan Jejak air mata di pipi Cipta tidak hilang sepenuhnya, setelah membasuh wajahnya, Cipta hanya berdiam diri di pintu kamarnya, seolah ada batas yang tak ingin dilewati olehnya.

Di dalam kamar Cipta, ada kejutan oleh Jeje yang tak pernah sampai kepadanya, harusnya Cipta dan Jeje merayakannya berdua, penuh dengan suka cita dan canda tawa, naasnya mereka merayakan dengan duka cita penuh tangis dan luka. Bahkan kini mereka tak lagi berdua, mereka hidup pada alam mereka masing – masing.

Cipta menggengam erat knop pintu, menekannya pelan dan membuka pintu kamarnya. Melihat dekorasi acak – acakan yang ditempel sembarangan di kamarnya membuat air mata Cipta kembali menyeruak. Berapa kali harus ia tegaskan bahwa ia laki – laki, mengapa dirinya sangat mudah menangis! Cipta melihat ornament bulu – bulu di dinding kamarnya dengan foto – foto kebersamaan dirinya dan Jeje. lalu sebuah spanduk bertuliskan Selamat Merayakan Kekalahan dalam Bahasa inggris tergantung di langit kamarnya, belum lagi spanduk itu berisi segala foto aib Cipta.

Melihatnya Cipta tertawa keras, tawanya benar – benar menggelitik, siapapun yang mendengarnya pasti turut tertawa, tawa itu begitu bahagia tanpa ada yang menyadari bahwa dibalik tawa itu ada tangis atas teriris hatinya sebab luka ditinggalkan. Cipta duduk di bangku pianonya, dari sudut itu dirinya dapat menatap kamarnya dan ada hadiah terletak di atas pianonya.

Cipta sangat ingin membuka kadonya, namun dirinya takut untuk kembali menghadapi kenyataan. Tak bisakah dirinya hidup dalam khayalan agar ia tak pernah merasa kehilangan, jika saja Cipta tahu sakitnya kehilangan akan sesakit ini, Cipta akan lebih memilih pergi lebih dulu dibanding orang – orang yang ia sayangi. Bukankah Jeje terlalu kejam padanya, bagaimana mungkin laki – laki tengil itu meninggalkan luka begitu dalam padanya. Cipta meraih sebuah surat yang tergantung di sisi kiri kado tersebut dan saat membacanya Cipta kembali merasakan pahit lewat kata – kata, Cipta membenci Jeje, sungguh Cipta membencinya karena telah membuatnya terluka sedemikian rupa.

Assalamualaikum Cipta,

Jiyaah…Ciri Ciri anak soleh emang harus kek gue, sebelum buka apa – apa kudu salam dulu, iya nggak? Kalo ditanya nih ya, gue malu banget nulis surat ginian buat lo. Cringe banget nggak sih? Kek pasangan homo *-PIV-* (disensor soalnya itu kata kasar, gue nggak masu surat gue ternodai) tapi gue ogah, masih setia ama Magenta hehehehe :v

Gue tahu lo kalah, udah nggak usah sedih. Menang kalah dalam pertandiangan itu biasa, kalo lo udah berusaha berarti waktu itu lo kurang beruntung, bintang lo kurang bagus wkwkwkwkw.

Cipta, makasih buat semuanya. Entah untuk apapun itu, gue pengen banget ngucapin makasih buat lo, dam maaf atas segalanya. Apapun itu, gue minta maaf ya adek tersayang gue. jangan gamon sama Windi, Cepat Move On Cipta,

Dari Abang Jeje paling Ganteng, benar tidak?

Cipta tidak tahu harus berkata apa, hatinya remuk redam, berapa kali harus ia katakan bahwa perasaannya Hancur sehancurnya hancurnya. Malam itu, Cipta menghabiskan waktu hanya untuk menangisi kepergian Jeje, kado yang Jeje beri dan surat yang Jeje tulis Cipta lempar sembarang arah, untuk apa itu jika Jeje tak lagi ada di sisinya, Cipta tidak butuh hal seperti itu, ia butuh Jeje, ia butuh temannya, ia butuh sahabatnya, ia butuh saudaranya, ia butuh Jeje di sisinya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: