>

Cinta itu tentang luka ber-iring suka, sebab karena luka kita tahu apa itu arti bahagia sesungguhnya.”

-Disudut kota, Malam bersama Sarah.

>>>***<<<

Setelah mengahabiskan waktu di warung sate, Sarah dan Ginanja memutuskan untuk mengabiskan waktu mereka dengan menyusuri jalanan kota dengan jalan kaki. Selain Sarah dan Ginanja banyak pasangan lain yang juga layaknya sama seperti mereka, menghabiskan waktu berdua saja. Dan saat itu, dunia serasa milik berdua saja, yang lain hanya numpang.

“Ginanja,” Panggil Sarah, Ginanja meneloh pada Sarah, menampilkan raut wajah bertanya, “Apa?” tanya Ginanja. 

Sarah tersenyum lebar, “boleh pegangan tangan?” Tanya Sarah, jika ditanya jujur sebenarnya Sarah benar – benar malu bertanya seperti itu pada Ginanja, namun dilain sisi Sarah sangat ingin melakukannya, Ginanja dan Sarah tidak pernah benar – benar melakukan kontak fisik secara nyata, jikapun ada selalu Sarah yang memulai lebih dulu. Bahkan cubitan pipi di warung sate saja termasuk tindakan tiba – tiba oleh Ginanja yang membuat Sarah terkejut dan tidak menyangka Ginanja akan melakukannya yang membuat Sarah semakin salah tingkah.

Ginanja tidak menjawab pertanyaan Sarah, memalingkan mukanya menjauh dari Sarah, seolah pura – pura tidak mendengar perkataan Sarah. Melihat respon Ginanja, Sarah tersenyum culas, wajahnya memerah sebab malu, tak bisakah terjadi gempa tiba – tiba, Sarah ingin segera berlari jauh dari hadapan Ginanja, hancur sudah harga dirinya.

Sarah dan Ginanja masih melanjutkan jalan bersama mereka, kali ini benar – benar senyap seolah ada dinding tak kasat mata yang membatasi mereka. Sarah berjalan lesu, seolah peka dengan keadaan Sarah, perlahan – lahan Ginanja mengikis jarak di antaranya dan Sarah, hingga jarak mereka hanya sebatas bahu bertemu bahu. Perlahan, Ginanja meraih tangan Sarah, masih dengan wajah yang berpaling dari Sarah.

Sarah melihat genggaman tangan Ginanja padanya, samar – samar dapat Sarah liat wajah Ginanja yang memerah, bahkan lebih merah dari wajahnya tadi saat menahan malu. Selain itu dapat Sarah rasakan tangan Ginanja yang sangat dingin dan sedikit basah, Ginanja gugup. Sungguh, Sarah tidak akan mengira reaksi Ginanja akan segugup ini padahal Sarah hanya mengajaknya untuk berpegangan tangan. Karena tidak tahan melihat betapa lucunya Ginanja, Sarah melepaskan tawanya, bahkan orang – orang di sekeliling Ginanja dan Sarah mulai memperhatikan mereka akibat tawa Sarah yang begitu terdengar renyah di telinga.

“Hahahahahaha…Astaga Ginanja, Cuma pegangan tangan kok! Bukan mau akad nikah, nggak perlu gemeteren segala!” Sarah menggenggam erat tangan Ginanja yang sedikit gemetar dan menunjukkannya pada Ginanja sambil menaik turunkan kedua alisnya dengan tawa tertahan. Malu sudah Ginanja, ingin rasanya sekarang Ginanja pergi ke hutan belantara agar tidak lagi menemui Sarah.

A-Apa-Apaan sih! Elak Ginanja.

“Duh…yang malu – malu tapi mau,” Goda Sarah sambil cekikan, perasaannya membuncah senang, kapan lagi ia bisa menggoda Ginanja seperti ini.

“Harusnya nggak usah aku tanya, langsung aku genggam aja ya.” Goda Sarah lagi berbisik pada Ginanja, karena tak tahan, Ginanja berniat untuk melepaskan tautan tangan mereka, “Eits… nggak semudah itu!” Ujar Sarah yang tahu niat Ginanja, Sarah semakin erat menggenggam tangan Ginanja.

Ginanja,” panggil Sarah.

“Apa?” balas Ginanja.

Dengan tawa kecil Sarah berbisik pelan pada Ginanja, “jadi begini ya istilah serasa dunia milik berdua, soalnya di mata Sarah cuma ada Ginanja aja.” Mendengar perkataan Sarah membuat Ginanja mengulum senyum tertahan, sungguh jika Sarah sudah ada dalam mode seperti ini, Ginanja sering kali dibuat kewalahan oleh perasaannya.

Seolah tak ingin kalah, Ginanja turut menunduk pada Sarah, dan membisikkan sesuatu di telinga Sarah, “Ada ranting, ada kayu,” ujar Ginanja, mendengarnya mengundang pelan kekehan Sarah, “Aku nothing without you.” Lanjut Ginanja lagi yang dihadiahi Sarah dengan pukulan.

Terbawa efuoria, Sarah kembali membalas Ginanja, “Aku suka rebahan,” Ujar Sarah,

“terus?” tanya Ginanja, “Tapi perihal you aku suka ketemuan,” Lanjut Sarah dengan tawa meledak yang diikuti dengan raut geli Ginanja.

“Sarah,” panggil Ginanja lagi.

“Apa?” Tanya Sarah.

“Ini yang terkahir,” Ujar Ginanja dengan senyuman tertahan.

“Kotak pisang, tahu sumedang.”

“Cakepp!!!” teriak Sarah semangat.

“Walau jarak membentang, cintaku tidak akan hilang.” Sarah tertawa lepas mendengar Ginanja, malam itu gombalan pasaran yang diucapkan Ginanja menjadi sumber utama kebahagiannya. Berapa lamapun Sarah bersama Ginanja, rasanya tidak pernah cukup, Sarah berharap tawa ini akan selalu dapat ia dengar dan tangan ini akan selalu dapat ia genggam, tak perlu selamanya, selama sisa hidupnya saja, Sarah akan begitu bersyukur, tuhan mengadakan Ginanaja untuknya.

Ginanja mengantar Sarah pulang, waktu beberapa jam bersama Sarah terasa sangat singkat untuknya. Ginanja memberhentikan motornya di halaman depan rumah Sarah. Pagar rumah Sarah begitu tinggi menjulang, membuat Ginanja kerap bertanya, sebahaya apa kehidupan di kota hingga rumah saja dipagari sedemikian rupa? Ah, Ginanja lupa, wajar saja jika rumah Sarah dijaga seperti iyu sebab keluarga Sarah cukup berada di lingkungan kotanya, terlihat dari bagaimana megahnya rumah Sarah berdiri tegak dan tampak mencolok di antara rumah lain disekitarnya.

Setelah ini langsung pulang?” tanya Sarah yang kesusahan melepaskan helmnya, Ginanja mendekati Sarah dan melepaskan kaitan helm di kepala Sarah.

“Iya,” Jawab Ginanja, “Emang nggak capek ya pulang – pergi sejauh itu?” Tanya Sarah khawatir takut karena lelah Ginanja malah tidak fokus dengan jalanan nantinya.

“Kalo ditanya capek, ya pasti capek.” Jawab Ginanja lagi, “Tapi, mudah –mudahan nggak bahaya selama hati – hati, nanti kalo emang capek, aku juga bakal berhenti sebentar.” Jelas Ginanja yang dibalas dengan hembusan nafas lega oleh Sarah.

“Ya udah masuk sana, udah malam, dingin!” Suruh Ginanja mendorong punggung Sarah hingga memasuki pagar rumahnya, setelahnya Ginanja segera menaiki motornya.

“Titip salam sama orangtua,” Sarah tersenyum tipis, “iya nanti dibilangin.” Ujar Sarah,  

“Sarah,” Panggil Ginanja sebelum dirinya benar – benar pergi.

“Apa?” tanya Sarah.

“Tau nggak Thai Tea apa yang paling enak didengar?” Tanya Ginanja

“Bukannya diminum ya? Apa emang?” tanya Sarah bingung.

“Thai tea di jalan ya, kabarin kalo sudah sampai rumah.” Jawab Ginananja, mendengarnya mengundang tawa Sarah lebih keras hingga Sarah mengeluarkan air mata.

“Ya udah, kamu hati – hati di jalan ya, kabarin kalo sudah sampe rumah.” Ujar Sarah dengan tawa yang masih tersisa yang dibalas dengan anggukan dan acungan jempol oleh Ginanja, setelahnya Ginanja melajukan motornya meninggalkan kediaman Sarah

Pandangan Sarah mengikuti punggung Ginanja yang semakin jauh dan hilang dari pandangannya, walau sesaat Ginanja memberikan banyak kenangan yang tak dapat ia lupakan dengan begitu mudah. Sarah menatap tangannya, dengan gemas dipelukanya tangannya, sebab selama perjalanan pulang tadi Ginanja terus menggenggam tangannya, Ginanja sangat jarang menggenggam tangannya, sekalinya di genggam Sarah tidak bisa tidak melonjak bahagia. Belum lagi gombalan tiba – tiba yang terjadi di antara mereka, walau geli, Sarah begitu menyukai yang terjadi di antara mereka.

Dasar Ginanja! Taunya bisa membuat perasaan Sarah amburadul saja!

***

Setelah mengantarkan Sarah pulang ke rumahnya, Ginanja memberhentikan motonya di tepi jalan begitu saja, membuka helmnya dan meraup udara sebanyak – banyaknya, tangannya gemetar dan dadanya sesak, Ginanja terduduk di trotoar jalan, kakinya lemas hanya karena Sarah. Ginanja menatap kedua tangannya dan tersenyum begitu lebar hingga memperlihatkan gigi – giginya, jika dilihat Ginanja tampak seperti orang gila, tersenyum sendiri di pinggir jalan.

Rasa bahagia terus saja membuncah di hati Ginanja, hari ini harus Ginanja tandai dengan hari terberani dirinya bersama Sarah, dimulai dari Ginanja yang berani mencubit pipi Sarah kerena gemas dan menggenggam tangan Sarah selama perjalanan pulang. Ginanja berharap, Sarah tidak menyadari bahwa mati – matian Ginanja menahan getaran di tangannya akibat Sarah, belum lagi detak jantung Ginanja yang berdebar tak beraturan, bertalu – talu hanya karena seorang Sarah.

Ginanja meloncat loncat kegirangan berteriak senang, sesekali dipeluknya tangannya tanda ia bahagia. Ini pertama kalinya ia bisa menggengam tangan Sarah selama itu.

“Aaaa…” Teriak Ginanja senang, perasaan menggelitik terus saja ia rasakan ditubuhnya terutama di bagian perutnya, rasanya seperti terbang dan melayang di saat bersamaan, belum lagi keadaan sekitarnya tampak sangat indah di mata Ginanja, ingatkan Ginanja untuk tetap mempertahankan kewarasannya sebab Ginanja tetap harus pulang ke rumahnya.

Serasanya cukup dengan selebrasi kebahagiannya, Ginanja kembali menggunakan helmnya dan mengendarai motornya. Senyuman masih tidak hilang dari bibirnya, lagu dengan judul lebih Indah oleh Adera, Ginanja senandungkan dengan perasaan bahagia.

“Saat kutenggalamkan dalam sendu

Waktupun enggan berlalu

Kuberjanji ‘tuk menutup pintu hatiku

Entah untuk siapapun itu”

 

“Semakin kulihat masa lalu

Semakin hatiku tak menentu

Tetapi satu sinar terangi jiwaku

Saat ku melihat senyummu…”

 

Tak peduli berapa kali Ginanja terbuai dengan perasaannya, apapun tentang Sarah, Ginanja merasa enggan untuk menyelesaikannya, ingin selalu bersama Sarah dalam waktu yang lama. Ginanja tidak berjanji untuk selalu membuka pintu hatinya pada siapapun, namun jika itu Sarah, tanpa diminta Ginanja akan membuka hatinya tanpa disuruh. Semakin Ginanja mengingat Sarah, semakin tak menentu perasaan Ginanja dibuatnya, lagu ini benar – benar mewakili seluruh perasaan Ginanja pada Sarah, mengapa jatuh cinta begitu terasa membahagiakan?

 

Dan kau hadir

Merubah segalanya, menjadi lebih indah

Kau bawa cintaku, setinggi angkasa

Membuatku merasa sempurna

 

Dan membuatku utuh

‘tuk menjalani hidup

Berdua denganmu selama – lamanya

Kaulah yang terbaik untukku......”

 

Malam itu selain perasaan Ginanja yang berbunga begitu indah, langit juga tampak lebih indah dari biasanya, seolah semesta turut berbahagia bersama Ginanja. Pada akhirnya, Sarah akan tetap menjadi pelabuhan akhir untuk Ginanja, jikapun nanti kapal Ginanja tidak ditakdirkan untuk menetap pada Sarah, Ginanja akan selalu mengingat, pelabuhan paling indah yang pernah ia singgahi itu hanya ada pada Sarah, dan masa lalu yang paling menyenangkan itu hanya tentang Sarah.

 

Dengan Sarah semuanya terasa lebih indah. (*)

Bersambung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: