
“Kadang kala memori itu terasa sangat menyakitkan, sebab kenangan yang paling ingin kita lupakan menyeruak paliang banyak memberi luka yang tak ingin lagi kita rasakan.”
-Serena di sisi persimpangan
>>>***<<<
Serena dan Ginanja tengah duduk di pinggiran sawah, sejauh mata memandang hanya ada hamparan sawah hijau membentang, musim panen masihlah lama untuk datang, hingga tanah – tanah tersebut masih basah. Di tengah pematang sawah tersebut, Ginanja dan Serena duduk berdua. Serena memakai topi Ginanja di kepalanya, siang ini, matahari cukup terik hingga Serena benar – benar merasa akan terbakar jika lebih lama lagi dibawahnya.
Ginanja menatap Serena aneh, sebab hari ini, Serena menggunakan gaun putih selutut tanpa lengan, berhias mutiara kecil disekitar pinggang gaun tersebut, gaun yang dipakai Serena terlihat sederhana namun begitu elegan. Ginanja tersenyum kecil, Serena akan tampak berbeda jika memakai gaun, aura sahabatnya itu benar – benar tampak mengidintimasinya sesekali. Selain pakaian, tatanan rambut Serena juga tampak berbeda, Serena membiarkan rambut panjangnya tergerai sebatas punggung, padahal biasanya Serena akan mengeluh panas dan memilih mengikat rambutnya. Yang membuat Ginanja lebih heran adalah Serena membiarkan gaunnya kotor begitu saja, duduk ditanah tanpa alas, padahal gaun itu berwarna putih dan Serena sangat anti ketika pakaiannya kotor, katanya jika pakaiannya kotor, sulit untuk mencuci bajunya.
Merasa diperhatikan, Serena melihat Ginanja. “Kenapa?” tanya Serena, Ginanja menggelengkan kepalanya, “Tumben,” Komentar Ginanja.
“Apanya?” bingung Serena. “Kamunya,” Jawab Ginanja lagi yang malah dibalas kerutan di sekitar dahi dan raut wajah bingung oleh Serena. Ginanja menghela nafas pelan, selain menyebalkan, Serena ternyata sangat lamban.
“Tumben dandan? Mau Kemana?” Tanya Ginanja, Serena tersenyum menggoda pada Ginanja, “Ciee…perhatian.” Ujar Serena senang.
“Dih…nanya doang, gimana nggak bingung kalo yang biasanya upik abu tiba – tiba jadi Cinderella.” Ujar Ginanja pedas yang dihadiahi pukulan oleh Serena. “Seenaknya aja bilang upik abu,” Bantah Serena, “Emangnya kamu yang dibandingin sama arang aja kalah bagus.” Ejek Serena.
“Ya iyalah bagus aku, arang kan buat manggang kalo aku mah enggak!” ujar Ginanja, “Semisalnya, dasar bego!” Balas Serena kesal. Ginanja tidak lagi membalas Serena, selama beberap saat hanya hembusan angin yang dapat terdengar diantara Serena dan Ginanja. Hening menjadi pengendali paling berkuasa diantara mereka.
Pikiran Ginanja berkenala bebas begitupula dengan Serena, sudah berapa lama mereka berdua bersama? Sepuluh tahun? Bahkan masing – masing dari mereka tidak dapat memastikan berapa lama hubungan mereka terjalin. Masih mereka ingat jelas bagaimana pertemuan pertama mereka. Hari itu, Serena masih anak perempuan dengan kuncir dua yang menangis di persimpangan jalan bersama nenek Rinaya. Serena ditinggalkan oleh dua orang yang paling ia cintai sejak dirinya mengenal apa itu cinta.
“Serena nggak mau tinggal sama nenek! Serena mau pulang!” Serana kecil terus meronta dari pegangan Nenek Rinaya, kekuatan nenek Rinaya tidaklah seberapa untuk menahan Serena kecil hingga pegangan itu terlepas. Serena kecil berlari pergi menjauh, berkali – kali Nenek Rinaya memanggil Serena yang sama sekali tak digubris oleh Serena.
“Serena,”
“Serena.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: