>

“Mendua itu prosa yang mewakilkan sebuah perbautan yang dijadikan alasan bahwa kau mencintai salah satu diantaranya dan menyakiti satu lainnya.”

-Ginanja

>>>***<<<

“Jangan pernah pergi dari Serena,”

“Jangan pernah pergi dari Serena,”

“Jangan pernah pergi dari Serena,”

Perkataan Serena terus berputar ulang di pikiran Ginanja layaknya kaset rusak, Ginanja bukan tidak memahami maksud dari Serena. Hanya saja, Serena bukanlah wanita yang menempati hati Ginanja, seutuhnya perasaan Ginanja hanya untuk Sarah kekasihnya. Mungkin orang akan mengatakan Ginanja gila menyia – nyiakan Serena yang mencintai dirinya, dan memiliki peluang lebih masuk akal untuk berada di jenjang serius kedepannya, namun Ginanja tidak bisa memaksakan hatinya.

Banyak hal tentang Serena yang dapat Ginanja jadi alasan untuk mencintai Serena, namun alasan apapun yang Ginanja adakan hal itu hanya berujung pada Sarah. Ginanja tahu, kata – katanya menyakiti hati Serena, namun Ginanja tidak memiliki pilihan lain selain memukul mundur Serena. Mungkin Sarah tidak melihatnya atau mengetahuinya, bisa saja Ginanja menjalin hubungan dengan Serena tanpa sepengetahuan Sarah, tapi Ginanja tidak ingin menjadi laki – laki brengsek penerus Ayahnya. Melihat Ibu, Ginanja sudah cukup sakit menemukan Ibu selalu kecewa karena Ayah yang selalu bermain wanita.

Perihal ayah, Ginanja seolah lupa bahwa ia tak lagi menemukan pria itu akhir – akhir ini, padahal Ginanja sering menghabiskan waktunya bersama Ayah, walau Ayah brengsek, di hati Ginanja, Ayah tetap akan menjadi pahlawan nomor satu untuknya. semengecewakan apapun Ayahnya, Ayah itu akan tetap menjadi Ayah Ginanja, dan hal itu tidak akan pernah berubah hingga akhir hayat Ginanja.

“Ginanja,”

Panjang umur sekali, saat Ginanja tengah memikirkan Ayah, Ayah segera muncul di hadapannya. Pakaian Ayah masih saja terus sama, dengan singlet dan sarung yang ia kenakan, Ayah duduk disamping Ginanja, menatap lurus keluar jendela.

“Ayah,” Ucap Ginanja.

Ayah mengelus pucuk kepala Ginanja, menatap Ginanja dengan tatapan hangat penuh cinta, kasih sayang Ayah tampak jelas di binar mata yang beliau tunjukkan pada Ginanja.

“Anak ayah sudah besar, dulu ayah masih menimang dan menggendongmu. Sekarang ayah malah melihatmu risau memikirkan wanita.” Ujar Ayah lembut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: