
“Jika mereka mengatakan ini sebuah akhir, maka kukatakan dengan lantang bahwa ini adalah sebuah awal untukku, walau tak pasti nantinya cinta yang kudapati, setidaknya aku terbiasa dengan luka, hingga aku lupa bahwa aku pernah ada, dan merasakan hal yang sama seperti mereka.”
-Serena
>>>***<<<
Serena akan menjadi satu – satunya yang paling bahagia kala waktu ini tiba, sebab ia tak harus lagi tertawa padahal ia ingin sekali marah, ia juga tak harus lagi tersenyum saat dirinya benar – benar ingin menangis, kini dirinya bebas, tak perlu lagi ada yang ia tutupi, tak perlu lagi ada perasaan yang ia jaga, kini dirinya bisa lebih mencintai dirinya sendiri.
Sarah menjadi orang pertama yang meninggkan segalanya, membiarkan kekacauan itu tetap ada tanpa niat memperbaiki satupun, walah marah pada Sarah, Serena membiarkan langkah Sarah lebih dulu jauh, perempuan satu itu memang luar biasa, namun kata Serena, Serena jauh lebih luar biasa.
Serena menatap Putri yang sekaligus juga merupakan Rena, tersenyum sekilas. Serena memeluk erat Putri, menyalurkan kasih sayangnya, ini kesempatan terkahirnya, setelah ini tidak ada lagi pelukan hangat yang akan ia berikan pada Putri atau sekedar mengajarinya bagaimana binalnya malam terhadap Rena, dan rahasia kecil itu akan menjadi rahasia mereka untuk selamanya.
“Jangan pergi sendiri, aku ikut.” Serena menatap Putri, bingung mengapa harus bersamanya? Bukankah Putri akan lebih memilih pergi bersama Ginanja, menghilang bersamanya cukup buruk.
“Semuanya sudah, kini tinggal bang Ginanja dan aku tak ingin pergi bersamanya, ajak aku!” Putri merengek bergelayut manja di tangan Serena, mewajibkan Serena membawanya.
“Tidak menyesal?” Tanya Serena pasti, Putri menggelengkan kepalanya kuat, “Tidak akan pernah menyesal.” Jawab Putri mantap, mendengar betapa kukuhnya Putri, Serena mengangguk dan tertawa pelan.
“Baiklah, mari kita temui Ginanja untuk yang terkahir kalinya.” Serena menggenggam Putri, namun Putri menggeleng berkata ia akan menunggu Serena saja, karena dia tidak ingin menemui Ginanja, Putri ingin pergi tanpa merasa kehilangan dan melihat Ginanja tentu saja Putri akan merasa kehilangan, ia tidak akan lagi menemui satu – satunya abang yang paling ia sayangi.
“Tunggulah,” Ujar Serena, ia paham apa yang dirasakan Putri, tidaklah berbeda jauh dengan apa yang ia rasakan kini.
Serena menemui Ginanja, laki – laki itu masih saja tertidur tenang, tak tahukah dirinya bahwa mereka kini telah ada di akhir yang tak jelas bagaimana awalnya, dan juga ada diawal yang tak pernah ada akhirnya, terlalu membingungkan kini, namun semua itu terjadi.
“Sebelum semuanya benar – benar gelap, apa kau tak ingin membuka matamu?” Serena bertanya, namun Ginanja hanya diam, tertidur dengan nafas teraturnya. Serena terkekeh, walau tidak ada yang lucu, raut tidur Ginanja cukup menghiburnya.
“Hei sahabat, terimakasih untuk segalanya dan maaf untuk semuanya.” Itu menjadi akhir dari seluruh dialog yang pernah tercipta untuk Serena, kini ia benar – benar pergi, menghilang dan berharap tidak akan pernah kembali, jikapun nanti ia harus kembali, ia tak ingin mengingat segala hal yang telah ia lalui disini, entah tentang Ginanja, dirinya, segalanya, Serena tidak pernah ingin tahu lagi.
Serena ingin menggeman tangan Ginanja, mendekap pemuda itu untuk terkahir kalinya, namun Serena tahu bahwa itu hanya akan menjadi luka untuknya, karena sudah Serena katakan bahwa Ginanja hanya ada untuk Sarah bukan dirinya, dan kini Serena menerimanya.
Langkah kecil Serena semakin cepat menghampiri Putri dan saat itu dengan tawa puas Serena menarik Putri berlari bersama, mereka tertawa bersama sekarang mereka bebas dari segala belunggu yang menjera mereka, walau perlahan mereka tiada, semua ini terasa bahagia, dan bahagia ini tak akan pernah berkahir.
“Kami pulang,” (*)
Bersambung
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: