>

Apalah arti sebuah mimpi

Ketika lelap terserak pada malam – malam tanpa suara

Kucari hadirmu lepas fajar hingga petang

Tersedat tergerap laksana petir tanpa gelegar

Sementara waktu membenamkan segala harapan

Dunia seperti kapal yang karam.

-Rindu, Medy Loekito.

>>>***<<<

Chana keluar dengan lesu, Chana tidak dapat menemukan totebag pemberian Nisa, padahal Chana sudah bergadang – gadang akan memakainya besok saat berangkat kerja. Chana sungguh menyesal menghilangkan totebag pemberian Nisa. Namun, disaat Chana tengah merasa ada di jalan tergelapnya, sebuah cahaya menuntunnya untuk keluar. Di ujung lobi, Chana dapat melihat Ibram dengan gaya tengilnya tengah melambaikan totebag bermotif monyet dan pisang. Chana mengucek matanya, memastikan bahwa pengeliatannya tidak salah. Dan benar saja, itu totebag miliknya bersama mantan terindahnya, ralat, bersama mantan terburuk sepanjang usianya.

“BALIKIN TOTEBAG GUE!!” Teriak Chana, berlari kencang menghampiri Ibram. Chana tampak liar layaknya banteng yang siap menyeruduk saat bendera merah berkibar, dan Ibram tidak akan melupakan kebiasan Chana yang suka menyeruduk dan menyundul seseorang ganas. Chana boleh wanita, tapi tenaganya tak kalah dengan tenaga tukang bangunan. Dan untungnya kantor tampak sepi, karena jam pulang memang sudah sejak dua jam yang lalu.

“Sabar dulu elah, nih banteng betina main nyundul orang aja!” Ujar Ibram menahan kepala Chana dengan tangannya. “Balikin cepat, manusia nggak tau diri, ngapain lo nyuri tas gue!” Chana memukul Ibram beringas. Ibram mengangakat tinggi totebag Chana di lengannya.

Seudzon mulu nih Nyai kuntilanak, syukur nih totebag masih mau gue balikin, dibanding gue buang!” Chana membulatkan matanya mendengar Ibram ingin membuang totebag-nya, “Lo mau ngebuang totebag gue! Rasain lo!” Chana mencakar lengan Ibram, Ibram merasa perih namun tidak menujukkannya. Chana meringsek maju, menempel erat dengan tubuh Ibram guna mengambil kembali totebagnya, dari jarak sedekat ini, Chana dapat mencium harum Chinamon dari tubuh Ibram. Chana linglung sesaat, terhipnotis dengan aroma yang ia rindui, namun Chana segera menepis pikirannya.

Totebag lo, gue balikin dengan satu syarat!” Ibram memberikan penawaran pada Chana, Chana menghentikan aksi anarkisnya terhadap Ibram. “Kasih gue kesempatan untuk ngebuat semuanya balik ke awal dan ngebaikin apa yang seharusnya.” Lanjut Ibram. Chana terdiam, tidak menggubris ucapan Ibram. Gurat emosi tampak jelas tercetak di wajah Chana, peristiwa dua tahun lalu, bukanlah sesuatu yang dapat diperbaiki dengan mudah, dan Chana merasa tidak ada yang perlu di benarkan, sebab mereka ada di posisi terbaik mereka sekarang.

“Chana…” Ibram memohon dengan tatapan mengiba pada Chana, “Please,” Ibram ada titik menyerahnya, mau sekuat apapun Ibram berjuang untuk memperbaiki segalanya, jika Chana tidak membuka diri, semuanya akan sia – sia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: