Masyarakat Masih Belum Banyak Kenal Produk Keuangan Syariah

Masyarakat Masih Belum Banyak Kenal Produk Keuangan Syariah

JAMBI - Produk keuangan syariah di Indonesia ternyata belum banyak dikenal oleh masyarakat secara luas.

Deputi Direktur Pengembangan Perbankan Syariah OJK Pusat, Farid Faletehan mengatakan, Indonesia memiliki sebanyak 230 juta lebih penduduk muslim, walaupun jaringan keuangan syariah di Indonesia berkembang secara positif, namun perkembangannya belum tinggi.


\"Untuk indeks literasi keuangan syariah saja baru diangka 9 persen, berbeda dengan konvensional yang sudah mencapai 38 persen. Namun kami optimis ruang untuk peningkatan produk layanan syariah masih cukup besar. Perkembangan keuangan syariah per Desember 2021, total aset keuangan syariah Indonesia tidak termasuk saham syariah mencapai Rp. 2,050,51 triliun,\" kata Farid Faletehan via daring dalam kegiatan Edukasi Keuangan Syariah dalam Rangka Gebyar Ramadhan Nusantara OJK Provinsi Jambi di Yelo Hotel Rabu (20/4) lalu.


Sebelumnya, Kepala OJK Provinsi Jambi, Yudha Nugraha Kurata mengatakan, kegiatan edukasi merupakan salah satu program kantor OJK Provinsi
Jambi, dalam rangka meningkatkan Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan
khususnya di Provinsi Jambi dan termasuk dalam serangkaian kegiatan
Gebyar safari Ramadhan 1443 H.
Salah satu elemen yang menyebabkan belum tingginya pangsa pasar industri keuangan syariah adalah mayoritas
penduduk indonesia belum mengenal produk keuangan syariah dengan
baik.
\"Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK, red) yang
dilakukan oleh OJK pada tahun 2019, Indeks Literasi Keuangan Syariah skala nasional sebesar 8,9 persen , artinya baru 9 dari 100 orang dewasa yang mengenal produk keuangan syariah. Hal ini jauh
lebih rendah dibandingkan dengan tingkat literasi keuangan konvensional yang mencapai 38 perseb. Sebagai akibatnya, tingkat Inklusi keuangan syariah beru mencapai sebesar 9,1 perse , jauh tertinggal dibandingkan dengan tingkat inklusi keuangan konvensional yang mencapai 75,3 persen,\" jelas Yudha Nugraha Kurata.

Namun harus tetap optimis, besarnya gap antara tingkat literasi dan
inklusi keuangan syariah dengan konvensional juga menyiratkan bahwa
ruang untuk peningkatan pemahaman serta penggunaan produk dan
layanan keuangan syariah masih besar. Salah satu upaya penting
dalam upaya akselerasi tersebut adalah penggunaan teknologi informasi
atau digitalisasi.

Survei via sosial Januari 2022 menyebutkan bahwa terdapat 205 juta (74 persen) penduduk indonesia telah tersambung ke internet. Dan secara rata-rata Penduduk indonesia menggunakan internet lebih dari 8 jam perhari.
Peningkatan gaya hidup serba digital ini juga didorong Pandemi Covid-19.
\"Yang merubah manusia dalam berinteraksi dengan sesama. Intensitas
petemuan fisik menjadi terbatas dan digitalisasi semakin menjadi opsi
dalam model bisnis baru.

Hal ini lah yang mendorong industri jasa keuangan beradaptasi untuk tetap bertahap sekaligus memenuhi kebutuhan konsumen dengan layanan digital yang efisien, tetap aman, cepat, serta mengedepankan
faktor kesehatan. Akselerasi transformasi digital di sektor jasa keuangan telah menjadi game changer dalam penyediaan produk dan layanan jasa keuangan bagi
masyarakat. Dengan pesatnya penggunaan teknologi digital di bidang keuangan (fintech red), perluasan akses keuangan masyarakat menjadi jauh
lebih cepat,\" tandasnya.
Sementara, Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia Provinsi Jambi, Fasha Fauziah tidak dapat dibedakan antara pasar modal konvensional dan syariah, karena pada prinsipnya pasar modal tersebut sudah syariah, transaksi yang dilakukan pun sudah syariah.
\"Untuk melihat konvensional dan syariah dapat dilihat dari unsur mudharatnya, apakah ada ketergantungan yang tidak baik. Karena cara transaksi dan sumbernya itulah yang membedakan pasar modal konvensional dan syariah,\" tandas Fasha Fauziah.(yos)

Sumber: