UNJA Gelar Seminar Nasional dan Bedah Buku Senjakala Industri Migas
UNJA Gelar Seminar Nasional dan Bedah Buku Senjakala Industri Migas--
JAMBIEKSPRES.CO.ID - Universitas Jambi (Unja) bekerja sama dengan Rumah Energi Indonesia (Center for Indonesia Energy Policy) menyelenggarakan Seminar Nasional sekaligus bedah buku “Senjakala Industri Migas? pada Kamis (24/9/2026) di Aula Pascasarjana Gedung Singadekane Lantai 7, Kampus Telanaipura UNJA
Kegiatan yang mengusung tema besar "Energi untuk Indonesia Berkelanjutan" ini menghadirkan penulis buku tersebut, Dr. Muhammad Kholid Syeirazi, M.Si. (Anggota Dewan Energi Nasional & Founder Rumah Energi Indonesia), sebagai pembicara utama.
BACA JUGA:Emas Pertama Indonesia! Tim Bulu Tangkis Putra Tekuk China 3-2 di Asian Games 2026
Dalam forum ini, diskusi juga diperkaya oleh pandangan dari narasumber Eviyanti Refraida (Corporate Secretary PT Pertamina Hulu Rokan) serta penanggap yaitu Nazarudin, Ph.D. (Akademisi Universitas Jambi). Jalannya acara dipandu oleh Prof. Amirul Mukminin selaku moderator.
Dalam pembukaannya, Dr. Muhammad Kholid Syerazi, M.Si. yang juga merupakan penulis buku Senjakala Industri Migas?, menegaskan pentingnya pembahasan sektor energi ini mengingat ketergantungan nasional yang masih sangat tinggi. "Bauran energi kita itu masih sangat-sangat tergantung dengan ketersediaan BBM," ujar Kholid.
BACA JUGA:Cekcok Antar Tetangga Berujung Pembacokan, Pelaku Diantar Keluarga Menyerahkan Diri
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa buku tersebut berangkat dari riset disertasinya di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia dengan fokus Energy Policy. Riset ini melacak perjalanan panjang industri migas nasional lintas zaman, sejak rentang 1899 hingga 2023. "Untuk melahirkan karya disertasi ini adalah tirakat intelektual yang sangat panjang karena saya melacak datanya itu dari sumber-sumber primer kolonial," kata Kholid.
Ia menyoroti pergeseran kondisi migas Indonesia yang kini mengalami penurunan pada produksi minyak bumi. Jika pada puncak kejayaannya di tahun 1977 Indonesia mampu memproduksi hingga 1,7 juta barel per hari, saat ini kondisinya berbalik tingkat konsumsi nasional membengkak sementara produksi lokal menyusut. Melalui bedah buku ini, ia mengajak peserta berdiskusi mengenai prospek serta strategi agar sektor migas nasional dapat bangkit kembali.
Dari sudut pandang praktisi, Corporate Secretary PT Pertamina Hulu Rokan, Eviyanti Refraida, memberikan pandangan optimistis terkait masa depan sektor ini. Ia menilai, tingginya konsumsi minyak nasional dibanding tingkat produksi justru menjadi peluang bisnis yang sangat potensial bagi industri hulu. Dari sisi manajemen pasokan, minyak juga lebih mudah ditampung dan didistribusikan dibandingkan gas yang membutuhkan proses bisnis panjang serta pembangunan pusat industri penunjang.
Eviyanti mengungkapkan sejumlah tantangan operasional di lapangan, salah satunya durasi proses sejak penemuan cadangan hingga menjadi produksi yang memakan waktu rata-rata hingga tujuh tahun. Selain itu, tingkat keberhasilan kegiatan eksplorasi hulu migas yang bernilai ekonomis memiliki risiko kegagalan yang cukup tinggi. Menurutnya, karakteristik industri hulu migas memang selalu dibayangi risk of failure (risiko proyek bernilai zonk) yang menuntut business judgment rule yang tepat, terutama bagi BUMN agar ketidakberhasilan eksplorasi tidak serta-merta dianggap sebagai kerugian negara.
Mengenai anggapan bahwa industri migas telah memasuki fase "senjakala", Eviyanti secara tegas menepisnya. Menurutnya, meski secara persentase bauran peran migas menurun, secara kuantitas atau volume kebutuhan energi nasional terus membengkak seiring waktu. Ditambah lagi, transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT) tidaklah mudah karena membutuhkan biaya besar serta infrastruktur yang belum merata di seluruh wilayah.
Sementara itu, dari kacamata akademisi, Nazarudin, Ph.D. menekankan pentingnya komitmen bersama antara pemerintah dan parlemen untuk melahirkan regulasi serta tata kelola migas yang transparan dan menguntungkan masyarakat. Menurutnya, kebijakan nasionalisme dan keterbukaan terhadap investasi harus berjalan seiring. Pemerintah perlu memberi kemudahan bagi investor untuk menanamkan modal dan melakukan eksplorasi, namun tetap pada sebesar-besarnya kepentingan nasional.
Nazarudin menyebut karya Dr. Muhammad Kholid Syeirazi, M.Si. tersebut memiliki kualitas data yang kuat. "Buku ini sangat representatif untuk menjadi salah satu rujukan yang bisa kita ambil dalam membuat undang-undang yang rasional dan menguntungkan kita semua," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




