JAMBI EKSPRES EPAPER

Neuro-Puzzle Karya Dosen PBSI UNJA Bantu Anak ADHD Belajar Literasi Dasar

Neuro-Puzzle Karya Dosen PBSI UNJA Bantu Anak ADHD Belajar Literasi Dasar

Neuro-Puzzle Karya Dosen PBSI UNJA Bantu Anak ADHD Belajar Literasi Dasar--

JAMBIEKPRES.CO.ID - Tim dosen Universitas Jambi (UNJA) dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Peningkatan Literasi Dasar Anak ADHD melalui Media Neuro-Puzzle di Yayasan Bina Insani Kota Jambi”. Kegiatan ini menghadirkan media pembelajaran yang dirancang berdasarkan kebutuhan dalam mendampingi anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

BACA JUGA:Harga TBS Sawit Dharmasraya Naik, Tertinggi Rp4.042/Kg, Berikut Rincian Harga TBS 19 September 2026

Program ini diketuai oleh Dimas Anugrah Adiyadmo, M.Pd. bersama tim dosen PBSI FKIP UNJA lainnya, yaitu Dra. Yusra D. M.Pd., Dr. Sophia Rahmawati, M.Pd., Deri Rachmad Pratama, M.Pd., dan Siti Enik Mukhoiyaroh Bambang, M.Pd., serta melibatkan mahasiswa dalam pelaksanaannya. Dalam pelaksanaan kegiatan, tim memetakan kebutuhan mitra pada tiga aspek utama, yaitu penguatan kemampuan literasi dasar anak ADHD, ketersediaan media pembelajaran yang lebih terstruktur, serta peningkatan kapasitas guru atau pendamping dalam menggunakan media pembelajaran.

BACA JUGA:Daihatsu Rocky, SUV Compact Paling Pas Buat Kamu yang Aktif dan Suka Tampil Beda

Neuro-Puzzle dikembangkan sebagai media untuk mendukung kemampuan mengenal huruf, membaca suku kata, dan menyusun kata secara bertahap berdasarkan gambar dan puzzle. Media tersebut memadukan aktivitas visual, kognitif, dan kinestetik sehingga anak tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat melalui aktivitas memilih, mencocokkan, dan menyusun bagian-bagian puzzle.

Inovasi tersebut dikembangkan dalam dua bentuk yang saling mendukung. Neuro-Puzzle fisik digunakan untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung, sedangkan media digital berbasis website dikembangkan untuk menyediakan variasi dan penguatan pembelajaran. Konsep tersebut sejak awal dirancang sebagai integrasi media fisik dan digital untuk mendukung pembelajaran literasi anak ADHD.

BACA JUGA:Perampokan di Bungo: Korban Diikat Pakai Lakban, Emas dan Ponsel senilai Rp64 Juta Lenyap

Ketua tim pengabdian, Dimas Anugrah Adiyadmo, mengatakan bahwa salah satu hal penting dalam pelaksanaan program adalah memastikan kegiatan yang dilakukan benar-benar berangkat dari persoalan yang dihadapi mitra. “Pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar tentang seberapa banyak kegiatan yang dapat kita laksanakan. Hal yang lebih penting adalah apakah kegiatan tersebut benar-benar dibutuhkan. Karena itu, kami mencoba memulai dari kebutuhan mitra, kemudian mencari solusi yang memungkinkan untuk diterapkan dan dilanjutkan,” ujarnya.

BACA JUGA:Mitsubishi Xforce Buktikan Ketangguhannya Menaklukkan Medan Menanjak

Pelaksanaan Neuro-Puzzle mendapat respons positif dari Yayasan Bina Insani. Mitra mengapresiasi program karena media yang dikembangkan berkaitan langsung dengan kebutuhan pembelajaran anak yang mereka dampingi. Respons tersebut sekaligus menjadi salah satu indikator penting bahwa inovasi yang diberikan memiliki relevansi dengan kondisi pengguna.

Program juga memberikan perhatian pada keberlanjutan pemanfaatan media. Guru atau pendamping tidak hanya menerima Neuro-Puzzle, tetapi juga memperoleh pelatihan dan pendampingan lanjutan. “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada tim dosen PBSI Universitas Jambi yang telah melaksanakan kegiatan ini di Yayasan Bina Insani. Neuro-Puzzle yang dikembangkan memang sesuai dengan apa yang kami harapkan dan butuhkan untuk membantu proses belajar anak-anak, khususnya dalam pembelajaran literasi. Kami berharap media ini dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan ke depannya,” ujar Edy Purnomo, Ketua Yayasan Bina Insani Kota Jambi.

Selain diterapkan kepada mitra, hasil kegiatan Neuro-Puzzle juga telah didiseminasikan pada forum Jambi International Conference in Education and Humanities (JICEDHUM) 2026. Diseminasi tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan pengalaman pelaksanaan program kepada komunitas akademik sekaligus berbagi praktik pengabdian yang menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai dasar pengembangan inovasi.

BACA JUGA:PKKMB 2026 UMB Resmi Ditutup, Maba Didorong Adaptif Hadapi Era AI

Melalui program ini, tim berharap Neuro-Puzzle dapat terus dimanfaatkan di Yayasan Bina Insani dan menjadi salah satu alternatif pembelajaran literasi bagi anak ADHD. Program juga diharapkan memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menghasilkan inovasi yang sederhana, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. (*/kar)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: