MITSUBISHI JANUARI 2026

Limbah Pertanian Jadi Pangan Bergizi, Dosen Unja Kenalkan Jamur Edible kepada KWT Sipin Danau Sejahtera

Limbah Pertanian Jadi Pangan Bergizi, Dosen Unja Kenalkan Jamur Edible kepada KWT Sipin Danau Sejahtera

Foto bersama tim pengabdian dan KWT Sipin Danau Sejahtera--

JAMBI , JAMBIEKSPRES.CO.IDLimbah pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal memiliki potensi besar untuk diolah menjadi media budidaya jamur edible yang bernilai gizi tinggi sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, tim dosen Universitas Jambi memperkenalkan inovasi pemanfaatan Limbah pertanian sebagai media tanam jamur edible kepada anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Sipin Danau Sejahtera. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya penerapan hasil riset dalam mendukung ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan kesejahteraan keluarga.

BACA JUGA:Menteri ATR/Kepala BPN Tetapkan Standar Waktu Layanan untuk Pengukuran Tanah dan Peralihan Hak


Demonstrasi pembuatan dan penanaman jamur--

Kegiatan yang dilaksanakan pada Minggu (2/8) di Kelurahan Legok, Kota Jambi, merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Program ini mengusung tema "Pelatihan Budidaya Jamur Tiram melalui Inovasi Teknik Perkembangbiakan dan Diversifikasi Produk Olahan pada Kelompok Wanita Tani Sipin Danau Sejahtera", dengan fokus pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam budidaya jamur melalui pemanfaatan limbah pertanian sebagai media tanam yang berkelanjutan serta pengembangan produk olahan bernilai ekonomi.

BACA JUGA:Microgreens Berbasis Limbah Organik Jadi Solusi Ketahanan Pangan di Pesantren Insan Madani Jambi

Kegiatan dipimpin oleh Fathnur Sani K., S.Farm., M.Farm., Apt. sebagai ketua tim, didampingi oleh Yuliawati, M.Farm., Apt. dan Hasna Ul Maritsa, S.Si., M.Sc. Dalam sambutannya, Fathnur Sani menegaskan bahwa budidaya jamur edible tidak hanya berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pangan bergizi, tetapi juga memiliki prospek sebagai usaha berbasis rumah tangga yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

"Melalui pelatihan ini, kami berharap peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga memiliki motivasi untuk mengembangkan budidaya jamur sebagai usaha yang berkelanjutan dan mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi keluarga," ujar Fathnur Sani.

Sesi pertama disampaikan oleh Yuliawati, M.Farm., Apt. dari Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Jambi yang membahas aspek gizi dan manfaat kesehatan jamur edible. Ia menjelaskan bahwa berbagai jenis jamur konsumsi, seperti jamur tiram (Pleurotus ostreatus), jamur shiitake (Lentinula edodes), jamur kuping (Auricularia spp.), dan jamur susu (Calocybe indica), merupakan sumber protein nabati, serat pangan, vitamin, mineral, serta senyawa bioaktif, seperti β-glukan dan polisakarida, yang berpotensi memberikan efek imunomodulator dan antioksidan.


Penyerahan jamur untuk dibudidayakan peserta--

Menurut Yuliawati, konsumsi jamur edible secara rutin sebagai bagian dari pola makan seimbang berpotensi mendukung pemeliharaan kesehatan melalui peningkatan sistem imun, membantu menjaga kesehatan kardiovaskular, berkontribusi dalam pengendalian kadar glukosa darah, serta mengurangi stres oksidatif. Namun demikian, ia menegaskan bahwa jamur edible merupakan pangan fungsional yang berperan sebagai pendukung kesehatan dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti terapi medis.

"Masyarakat perlu memilih jamur hasil budidaya yang aman serta menerapkan teknik pengolahan yang tepat agar kandungan nutrisi dan senyawa bioaktifnya tetap terjaga," jelas Yuliawati.

Materi berikutnya disampaikan oleh Hasna Ul Maritsa, S.Si., M.Sc. dari Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi. Pada sesi ini, peserta memperoleh pembekalan mengenai teknik budidaya jamur tiram melalui praktik pembuatan baglog sebagai media tanam. Materi meliputi formulasi bahan baku berbasis limbah pertanian, proses pencampuran media, sterilisasi, inokulasi bibit, hingga teknik inkubasi dan pemeliharaan yang sesuai untuk menghasilkan pertumbuhan miselium serta produktivitas jamur yang optimal.

Pendekatan pelatihan dirancang secara partisipatif melalui kombinasi penyampaian materi, demonstrasi, dan praktik langsung. Setiap peserta berkesempatan melakukan proses inokulasi bibit pada baglog yang telah disiapkan. Baglog yang telah diinokulasi kemudian dibawa pulang untuk dipelihara secara mandiri di rumah masing-masing sebagai sarana pembelajaran berkelanjutan sekaligus implementasi hasil pelatihan.

Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi selama sesi diskusi, terutama terkait teknik budidaya, pengendalian kontaminasi, pemeliharaan media tanam, hingga strategi meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen. Diskusi juga mencakup peluang diversifikasi produk olahan jamur sebagai alternatif usaha yang dapat memberikan nilai tambah bagi kelompok.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: