Kekeruhan Batanghari Tembus 4.500 NTU, 38 Ribu Pelanggan Tirta Mayang Terdampak Pelayanan
Direktur Utama Perumda Tirta Mayang Kota Jambi, Arianto, -Ist-
JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID – Krisis air baku kembali menghantui pelayanan air bersih di Kota Jambi. Tingkat kekeruhan Sungai Batanghari melonjak hingga 4.500 NTU, angka yang disebut sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah operasional Perumda Tirta Mayang.
Lonjakan kekeruhan tersebut membuat Perumda Tirta Mayang tak bisa mempertahankan produksi pada kondisi normal. Produksi air terpaksa dipangkas sekitar 20 persen, sehingga sekitar 38 ribu pelanggan berpotensi mengalami gangguan distribusi.
BACA JUGA:Pertumbuhan yang Berkeadilan: Mencari Makna Ekonomi Pancasila di Jambi
Direktur Utama Perumda Tirta Mayang Kota Jambi, Arianto, mengatakan kondisi Sungai Batanghari saat ini cukup ekstrem. Bahkan, persoalan yang dihadapi bukan hanya kualitas air baku, tetapi sebelumnya juga menyangkut penurunan debit sungai.
Hal itu disampaikannya saat meninjau Intake Pulau Pandan, Kecamatan Danau Sipin, Kamis (1/10/2026).
Arianto mengungkapkan, beberapa hari sebelumnya ketinggian air Sungai Batanghari sempat turun hingga sekitar 60 sentimeter. Kondisi tersebut berada di bawah kebutuhan operasional pompa penyedot air yang membutuhkan ketinggian sekitar 100 sentimeter.
Untuk mengantisipasinya, Tirta Mayang melakukan penyesuaian dengan meningkatkan dan memperpanjang pipa penyedot air.
"Kami melakukan peningkatan dan memperpanjang pipa penyedot air karena debit air sungai turun," kata Arianto.
Belakangan, debit sungai justru kembali meningkat. Dalam sepekan terakhir, ketinggian air disebut telah mencapai sekitar 250 sentimeter.
Namun, membaiknya debit tidak serta-merta menjadi kabar baik. Air Sungai Batanghari justru berubah sangat keruh. Tingkat kekeruhan yang sebelumnya masih berada pada kisaran 200 hingga 250 NTU melonjak drastis hingga 4.500 NTU.
"Ini pertama kali dalam sejarah tingkat kekeruhan air Sungai Batanghari naik signifikan. Sejak berdiri PDAM Tirta Mayang, baru kali ini kekeruhan air sungai mencapai 4.500 NTU," tegasnya.
Kondisi tersebut membuat proses pengolahan air menjadi jauh lebih berat. Tirta Mayang tidak dapat memaksakan produksi karena kemampuan pengolahan memiliki batas, termasuk dalam penggunaan bahan kimia penjernih.
Menurut Ariyanto, dosis bahan kimia tidak bisa terus dinaikkan untuk mengimbangi tingginya kekeruhan air baku.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




