MITSUBISHI JANUARI 2026

Konsumsi Domestik Sawit 2026 Melonjak Tajam akibat Penerapan Biodiesel B50

Konsumsi Domestik Sawit 2026 Melonjak Tajam akibat Penerapan Biodiesel B50

ilustrasi kebun kelapa sawit--

KUNMING, JAMBIEKSPRES.CO.ID-Industri kelapa sawit Indonesia memasuki babak penuh tantangan sepanjang tahun 2026.

Sektor strategis ini dihadapkan pada perlambatan pertumbuhan produksi nasional, lonjakan tajam konsumsi domestik akibat program B50, serta tingginya beban biaya operasional dari hulu hingga hilir.

Gambaran komprehensif mengenai kondisi tersebut dipaparkan oleh Wakil Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Lolita Bangun.

Presentasi bertajuk “Indonesia’s Palm Oil Market Outlook: Policy-Driven Supply-Demand Realignment and a New Cost Paradigm” tersebut disampaikan dalam forum Global Oleochem Summit 2026 di Kunming, China.

BACA JUGA:Harga TBS Sawit Pasaman Barat Tertinggi Rp3.972/ Kg, Terendah Rp 3.230/Kg, Ini Daftar Harga TBS 2 Agustus 2026

Kondisi tahun 2026 ini berbanding cukup kontras dengan pencapaian pada tahun 2025. Sepanjang 2025, produksi minyak sawit Indonesia mampu tumbuh 7,5% hingga mencapai 51,6 juta ton. Kinerja ekspor pun sempat melonjak 9,5% dengan nilai menyentuh US$35,8 miliar berkat sokongan cuaca yang kondusif dan harga pasar yang stabil.

Namun, memasuki tahun 2026, laju pertumbuhan produksi nasional diperkirakan tertahan di bawah angka 2%. Meskipun sebagian area replanting mulai menghasilkan, dampak fenomena El Niño sejak Mei 2026, penurunan kualitas agronomis, serta program peremajaan kebun yang masih berlangsung menjadi penahan utama peningkatan hasil panen.

BACA JUGA:Harga TBS Sawit Bangka Tengah Akhir Juli 2026 Rp3.100 per Kilogram, Berikut Rinciannya

Di sisi lain, kebutuhan CPO dalam negeri justru mengalami lonjakan sangat signifikan. Penerapan wajib biodiesel B50 mulai Juli 2026 diperkirakan menyedot kebutuhan CPO domestik hingga 14,6 juta ton. Jumlah ini naik sekitar 1,9 juta ton dibandingkan alokasi program B40 pada tahun sebelumnya.

BACA JUGA:Harga TBS Sawit Dharmasraya 1 Agustus 2026, Tertinggi Rp 3.972/Kg, Terendah Rp 3.285/Kg, Ini Rinciannya

Kombinasi antara produksi yang stagnan dan tingginya alokasi energi dalam negeri ini berdampak langsung pada penurunan volume ekspor ke luar negeri. Meskipun demikian, harga rata-rata CPO pada semester pertama 2026 yang berada di kisaran US$1.432 per metrik ton diperkirakan masih akan bertahan tinggi dalam jangka pendek.

Peta negara tujuan ekspor Indonesia juga mengalami pergeseran. Pengiriman ke pasar utama seperti India, Uni Eropa, dan Amerika Serikat mencatatkan penurunan. Sebaliknya, ekspor ke China tetap tumbuh solid hingga mencapai hampir 6 juta ton, mendominasi dalam bentuk produk olahan dan oleokimia. Pasar non-tradisional seperti Malaysia, Bangladesh, Afrika, dan Rusia juga menunjukkan peningkatan permintaan yang tajam.

BACA JUGA:Harga TBS Sawit Pasaman Barat Per 31 Juli 2026, Tertinggi Tembus Rp3.972 Per Kilogram, Berikut Rinciannya

Tantangan industri sawit semakin berat akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Konflik tersebut memicu kenaikan harga pupuk hingga 30% sejak Maret 2026 serta mendongkrak harga BBM industri secara drastis dari Rp15.000 menjadi Rp29.000 per liter. Akibatnya, biaya operasional perkebunan, pengangkutan TBS, hingga beban upah kerja meningkat pesat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: