JAMBI EKSPRES EPAPER

Lima Pilar Sinergi Kemenkeu-BI Jadi Kunci Menjaga Ketahanan Ekonomi 2026

Lima Pilar Sinergi Kemenkeu-BI Jadi Kunci Menjaga Ketahanan Ekonomi 2026

Lima Pilar Sinergi Kemenkeu-BI Jadi Kunci Menjaga Ketahanan Ekonomi 2026--

JAMBIEKSPRES.CO.ID - Kementerian Keuangan Republik Indonesia dan Bank Indonesia (BI) sepakat memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter sebagai langkah strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Komitmen tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia yang berlangsung pada 24 September 2026 di Kantor Bank Indonesia. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Menteri Keuangan dan Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia bersama Gubernur Bank Indonesia serta Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia.

BACA JUGA:Dorong Pembelajaran Berkualitas, MTP UNJA Adakan Workshop Outcome-Based Course Design

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramadan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional menghadapi berbagai tantangan global. “Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia sepakat untuk terus memperkuat kebijakan sesuai dengan mandat masing-masing guna menjaga stabilitas serta mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Ramadan dalam keterangan resmi yang dikutip dari laman Bank Indonesia.

BACA JUGA:Dorong Perempuan Tumbuh dan Naik Kelas, BRI Raih Penghargaan di Women on the Move 2026

Dalam kebijakan fiskal, Kementerian Keuangan terus menjalankan strategi yang pruden dan berkesinambungan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Pemerintah memastikan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap dilakukan secara hati-hati dengan menjaga defisit anggaran berada di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

BACA JUGA:Musim Kemarau, Perumda Tirta Mayang Imbau Pelanggan Untuk Menampung Persediaan Air

Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan penerimaan negara serta penajaman belanja agar lebih efektif dalam mendukung pembangunan dan aktivitas ekonomi. Dari sisi pembiayaan, pemerintah tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dengan memperhatikan manajemen risiko utang sehingga struktur utang pemerintah tetap sehat, aman, dan berkelanjutan.

BACA JUGA:Kolaborasi Jambi Mantap, Inovasi Bank Jambi Terbukti Kembangkan Ekonomi dan UMKM

Sementara itu, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan moneter melalui optimalisasi berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5 persen ±1 persen pada periode 2026–2027. Stabilitas tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam menciptakan iklim ekonomi yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan.

BACA JUGA:Cody Gakpo Jadi Pahlawan, Timnas Belanda Tahan Imbang Jerman 1-1

Koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia dilakukan melalui lima pilar utama sinergi. Pilar pertama adalah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui optimalisasi instrumen fiskal dan moneter. Kedua, memperkuat ketahanan sektor eksternal menghadapi dinamika global, baik dari sisi perdagangan internasional maupun arus modal asing.

Pilar ketiga mencakup pengelolaan kecukupan likuiditas di pasar uang, sektor perbankan, dan perekonomian. Pilar keempat adalah pengendalian inflasi melalui koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID), termasuk implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

BACA JUGA:Sumatera: Raksasa Ekonomi yang Belum Sepenuhnya Terbangun

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: