Stabilitas Keuangan Terjaga di Tengah Gejolak Global
Foto bersama--
JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO.ID— Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan Stabilitas sistem keuangan nasional selama triwulan II 2026 tetap terjaga dengan baik.
Ketahanan ini berhasil dipertahankan berkat koordinasi yang kuat serta sinergi kebijakan yang erat antarotoritas, meskipun perekonomian global kembali diwarnai eskalasi konflik geopolitik dan dinamika pasar keuangan yang dinamis.
BACA JUGA:Dua Tersangka Dugaan Korupsi Pengadaan Tanah Akses Pelabuhan Ujung Jabung Dilimpahkan ke JPU
KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus memperkuat pemantauan terkoordinasi untuk memitigasi potensi risiko eksternal dan memelihara momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Memasuki pertengahan tahun 2026, tekanan dari perekonomian global memang meningkat seiring ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada fluktuasi harga energi, rantai pasok dunia, serta volatilitas nilai tukar dan arus modal global. Kendati demikian, perekonomian domestik terbukti mampu menunjukkan ketangguhan. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2026 diperkirakan tetap berada pada kisaran 5,6 persen hingga 6,0 persen secara tahunan.
Daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga juga terjaga, disokong oleh peran APBN sebagai penyangga tekanan ekonomi melalui penyaluran bantuan sosial serta pengendalian inflasi. Hingga triwulan II 2026, realisasi Pendapatan Negara tumbuh 21,4 persen secara tahunan mencapai Rp1.459,4 triliun, sementara Belanja Negara terealisasi sebesar Rp1.656,0 triliun atau tumbuh 17,8 persen secara tahunan untuk mendukung berbagai program prioritas nasional.
BACA JUGA:Perkuat Daya Saing Inovasi, Kanwil Kemenkum Jambi Ikuti Forum Koordinasi Nasional KI Indonesia 2026
Langkah penguatan dari sisi moneter turut dilakukan oleh Bank Indonesia melalui penetapan suku bunga BI-Rate sebesar 5,75 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memastikan inflasi tetap berada di rentang target 2,5 plus minus 1 persen. Pada akhir Juli 2026, nilai tukar Rupiah menguat ke posisi Rp17.994 per dolar AS dengan posisi cadangan devisa sebesar USD145,6 miliar, yang setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor.
Di sektor perbankan dan jasa keuangan, kinerja intermediasi tercatat solid dan produktif. Penyaluran kredit perbankan hingga Juni 2026 tumbuh 12,67 persen secara tahunan menjadi Rp9.080,9 triliun, didorong oleh pertumbuhan tinggi pada kredit investasi. Kualitas kredit tetap terjaga aman dengan rasio Non-Performing Loan gross sebesar 2,09 persen dan tingkat permodalan perbankan yang sangat kuat dengan Capital Adequacy Ratio mencapai 23,70 persen. Perbaikan juga terlihat pada pertumbuhan simpanan masyarakat, khususnya kelompok ritel dan rumah tangga, yang memperkuat basis pendanaan sektor perbankan.
Melalui integrasi kebijakan fiskal, moneter, serta pengawasan sektor keuangan dan penjaminan simpanan, KSSK optimistis stabilitas makroekonomi dan sektor keuangan nasional akan terus menjadi pijakan kokoh bagi keberlanjutan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




