Oleh: Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
Pagi itu, matahari muncul perlahan dari balik Bukit Barisan dan menyinari hamparan hijau di kaki Gunung Kerinci. Para petani memulai hari tanpa lagi mencemaskan permainan harga yang selama puluhan tahun melemahkan posisi mereka. Kopi, kayu manis, kentang, dan jeruk tidak langsung diangkut keluar dalam keadaan mentah, tetapi diproses di pusat-pusat pengolahan modern milik daerah. Teknologi digital membantu petani mengetahui harga, memperkirakan permintaan, dan menjangkau pembeli sebelum musim panen tiba. Aroma kopi Kerinci yang memenuhi udara pagi seolah menjadi penanda bahwa kemajuan akhirnya tumbuh dari tangan masyarakat sendiri.
BACA JUGA:Ringankan Beban Warga Terdampak Kemarau, PTPN IV Regional IV Salurkan Paket Sembako untuk SAD
Di Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, pelabuhan telah berubah menjadi gerbang perdagangan yang menghubungkan Jambi dengan pasar dunia. Kelapa, pinang, hasil perikanan, dan minyak sawit diolah menjadi beragam produk bernilai tinggi sebelum meninggalkan daerah. Kapal-kapal tidak lagi hanya membawa bahan mentah, tetapi mengangkut produk jadi yang menggunakan merek, tenaga kerja, dan pengetahuan dari Jambi. Kawasan industri tumbuh tanpa meminggirkan nelayan, petani, dan usaha kecil yang telah lama menggantungkan kehidupan pada wilayah pesisir. Setiap kapal yang berangkat membawa pesan bahwa nilai tambah dapat tinggal lebih lama di tanah tempat kekayaan itu berasal.
BACA JUGA:Yamaha Gear Ultima, Rangka Kokoh Jadi Andalan Hadapi Beragam Kondisi Jalan di Jambi
Di Batanghari, Muaro Jambi, Tebo, Bungo, Merangin, dan Sarolangun, perkebunan rakyat tidak lagi identik dengan ketidakpastian. Petani karet memperoleh harga yang lebih adil karena telah terhubung langsung dengan industri pengolahan dan jaringan pasar. Perkebunan sawit rakyat dikelola secara produktif, berkelanjutan, dan memenuhi standar yang diterima pasar internasional. Koperasi berkembang menjadi lembaga ekonomi yang menyediakan pembiayaan, teknologi, sarana produksi, serta kepastian pemasaran. Petani akhirnya tidak hanya bekerja keras di lahannya, tetapi juga menikmati bagian yang layak dari nilai ekonomi yang dihasilkan.
BACA JUGA:Penetapan Harga TBS 22 Provinsi, Sumut Juara Nasional, Jambi Melesat di Empat Besar, Ini Daftarnya
Kota Jambi berkembang sebagai pusat pendidikan, perdagangan, kesehatan, teknologi, jasa, dan ekonomi kreatif yang nyaman dihuni. Angkutan umum yang aman menghubungkan kawasan permukiman dengan sekolah, kampus, pasar, rumah sakit, dan pusat kegiatan ekonomi. Trotoar yang teduh memberi ruang bagi pejalan kaki, sedangkan taman kota menjadi tempat perjumpaan yang hidup bagi seluruh lapisan masyarakat. Pertumbuhan gedung dan kendaraan tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran kemajuan sebuah kota. Kualitas hidup warga menjadi pusat dari setiap keputusan pembangunan.
Sungai Batanghari kembali menempati kedudukannya sebagai halaman depan peradaban Jambi. Airnya mengalir lebih bersih karena limbah rumah tangga, industri, dan pertambangan tidak lagi dibuang tanpa pengendalian. Pada malam hari, tepian sungai dipenuhi kegiatan seni, perdagangan kecil, kuliner, dan ruang interaksi yang tertata. Candi Muaro Jambi berkembang menjadi pusat pengetahuan, kebudayaan, dan pariwisata yang dikenal dunia. Pengunjung datang bukan hanya untuk melihat peninggalan masa lalu, tetapi juga untuk menyaksikan bagaimana Jambi merawat sejarah sambil membangun masa depan.
BACA JUGA:Bukti Komitmen Nyata di Wilayah Kerja, SKK Migas PetroChina Gelar Kantin Sehat
Gambaran tersebut bukan khayalan yang kehilangan pijakan, melainkan kemungkinan yang dapat diwujudkan. Jambi memiliki tanah yang subur, sungai yang panjang, kawasan pesisir, hasil perkebunan, sumber daya energi, hutan tropis, dan warisan budaya yang bernilai tinggi. Letaknya di tengah Pulau Sumatera memberikan keuntungan strategis bagi perdagangan, industri, dan konektivitas antardaerah. Empat taman nasional serta kawasan hutan adat memperkuat peluang Jambi menjadi pusat ekonomi hijau. Semua modal itu hanya memerlukan keberanian untuk diolah melalui arah pembangunan yang tepat dan berkesinambungan.
Kekayaan Alam Hanyalah Titik Awal
Kekayaan alam merupakan modal pembangunan, tetapi tidak pernah menjadi jaminan kemajuan. Daerah yang terus menjual bahan mentah biasanya hanya memperoleh bagian terkecil dari rantai nilai yang panjang. Teknologi, pekerjaan berkualitas, keuntungan besar, dan kekuatan pasar justru tumbuh di wilayah yang mampu mengolah komoditas menjadi produk akhir. Kebanggaan sebagai penghasil sawit, karet, pinang, kopi, kayu manis, dan batu bara perlu dilanjutkan dengan keberanian membangun industri turunannya. Pertanyaan penting bagi masa depan Jambi bukan hanya berapa banyak kekayaan yang dihasilkan, melainkan berapa besar nilai tambah yang dapat dipertahankan.
Ketergantungan pada komoditas mentah juga membuat perekonomian daerah mudah diguncang oleh perubahan harga dunia. Ketika harga naik, penerimaan meningkat dan optimisme segera tumbuh, tetapi keadaan dapat berbalik saat pasar melemah. Pola tersebut membuat pendapatan petani, dunia usaha, dan pemerintah daerah bergerak dalam ketidakpastian. Struktur ekonomi yang lebih beragam diperlukan agar pertumbuhan tidak terus bergantung pada kemurahan pasar komoditas. Jambi membutuhkan ekonomi yang tidak hanya kuat ketika harga dunia sedang baik, tetapi juga tangguh ketika tekanan datang.
Dari Ekstraksi Menuju Kreasi