Oleh : Nofrida Saswati, Dasuki, Ade Ulfah Setiawati Putri dan Rizky Marudur Ulina Sianipar
JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Pasien dengan luka sering mengalami perubahan fungsi dan penampilan tubuh yang berdampak pada kondisi psikologis, termasuk penurunan harga diri. Pengelolaan status mental penting dilakukan untuk meningkatkan harga diri pasien melalui pemberian terapi afirmasi positif. Dampak Positif Self-Esteem pada pasien luka fisik lebih termotivasi untuk mengikuti program rehabilitasi dan perawatan. Tujuan dari penelitian ini diketahui pengaruh Penerapan Terapi Afirmasi Positif terhadap Tingkat Harga Diri pada Pasien Luka. Penelitian yqng dilakukan oleh Nofrida Saswati, Dasuki, Ade Ulfah Setiawati Putri dan Rizky Marudur Ulina Sianipar, yang merupakan dosen Keperawatan STIKES Harapan Ibu Jambi, tenaga kependidikan STIKES Harapan Ibu Jambi dan mahasiswa STIKES Harapan Ibu Jambi.
BACA JUGA:Diserbu 8.750 Pelari Se-Indonesia, Jambi Siap Gelar Presisi Merdeka Run 2026
"Desain penelitian ini adalah Pre Test and Post Test kontrol Group Design, dengan rancangan Quasy Experimental. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien yang dirawat dengan luka, sampel pada penelitian ini berjumlah 170 responden dengan metode accidental sampling dari tanggal 29 Juni-29 Juli 2026. Menggunakan intrumen pengukuran konsep diri pada pasien luka," kata Nofrida Saswati, Kamis (6/8).
BACA JUGA:Danamon beserta OJK mengadakan program literasi keuangan di Sekolah Suria Harapan School, Jambi
Hasil penelitian pada karakteristik responden sebagian besar responden berpendidikan SMP sebanyak 58 responden (41%), sebagian besar tidak bekerja (IRT) sebanyak 114 responden (81%), Lebih dari separuh responden kategori usia dewasa sebanyak 127 responden (91%), sebagian besar responden dengan jenis luka SC sebanyak 125 responden (89%). Berdasarkan hasil bahwa nilai rata-rata harga diri pada kelompok intervensi setelah dilakukan afirmasi positif dengan nilai 111,78, pada kelompok kontrol 109,35, dengan nilai p 0,001. (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat harga diri kelompok yang diberikan terapi afirmasi positif dengan kelompok kontrol.
Penerapan Terapi Afirmasi Positif terhadap Tingkat Harga Diri pada Pasien Luka-Ist-
"Berdasarkan hasil penelitian ada perbedaan yang signifikan antara tingkat harga diri kelompok yang diberikan terapi afirmasi positif dengan kelompok kontrol, maka disarankan bagi tempat penelitian untuk menambahkan SOP terapi afirmasi positif untuk meningkatkan harga diri pasien yang mengalami luka," jelasnya.
Menurutnya, luka merupakan kerusakan atau gangguan kontinuitas jaringan kulit atau mukosa yang dapat disebabkan oleh trauma, operasi, penyakit, atau faktor lain. Luka tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga bisa berdampak psikologis pada pasien (Asrizal, 2022).
"Menurut Kemenkes RI (2018), angka kejadian luka di Indonesia cukup tinggi, dengan prevalensi cedera nasional mencapai 8,2%. Jenis luka yang paling umum adalah luka lecet/memar dan luka robek/sayat, serta luka bakar yang prevalensinya sekitar 2,2% (Kemenkes RI, 2019)," terangnya.
Pasien dengan luka sering mengalami perubahan fungsi dan penampilan tubuh yang berdampak pada kondisi psikologis, termasuk penurunan harga diri. Menurut Stuart (2016) harga diri rendah merupakan penilaian pribadi seseorang tentang dirinya sendiri berdasarkan sejauh mana perilaku dan pengalamannya sesuai dengan ideal diri yang dimilikinya. Ini mencakup seberapa besar seseorang merasa dirinya berharga, kompeten, dan layak dihargai, serta kesediaannya menerima tanggung jawab atas kehidupannya sendiri.
"Pengelolaan status mental penting dilakukan untuk meningkatkan harga diri pasien. Pendekatan yang holistik, yang mencakup perawatan fisik dan dukungan psikologis, dapat membantu pasien merasa dihargai, lebih percaya diri, dan lebih berdaya, sehingga mendukung proses penyembuhan fisik dan emosional pasien (Suhron, 2017)," paparnya.
Dampak Positif Self-Esteem pada pasien luka fisik adalah Pasien dengan self-esteem yang tinggi cenderung lebih termotivasi untuk mengikuti program rehabilitasi dan perawatan, yang berkontribusi pada proses penyembuhan yang lebih cepat. Perkembangan harga diri berlangsung sepanjang rentang kehidupan. jika krisis berhasil diselesaikan pada satu tahap, individu mengembangkan strategi penanggulangan yang sehat yang dapat ia gunakan untuk membantu memenuhi tugas-tugas pada tahap selanjutnya.
"Ketika individu gagal mencapai tugas-tugas yang terkait dengan suatu tahap perkembangan, pertumbuhan emosional terhambat, dan ia kurang mampu mengatasi krisis pematangan atau situasional selanjutnyadiri (Townsend MC, 2015)," urainya.