JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID — Ancaman tuberkulosis (TB) di Kota Jambi kini tak lagi dipandang sekadar persoalan kesehatan individu.
Pemerintah Kota Jambi mulai bergerak lebih agresif dengan memperluas pelacakan kasus hingga ke lingkungan aparatur sipil negara (ASN), sekaligus menyiapkan bedah rumah bagi warga penderita TB yang tinggal di hunian tidak layak.
Langkah percepatan itu ditegaskan Wali Kota Jambi dalam upaya menekan penyebaran penyakit menular yang masih menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah kota, terutama kawasan seberang.
Menurutnya, penularan TB tidak hanya terjadi di lingkungan keluarga, tetapi berpotensi menyebar ke tempat kerja. Karena itu, pemeriksaan dan tracing kini mulai menyasar seluruh kantor pemerintahan dan organisasi perangkat daerah (OPD).
“Kalau di rumah ada yang terpapar, bisa terbawa ke kantor. Karena itu tracing kita perluas,” ujarnya.
Pemkot menilai tingginya kasus TB juga dipengaruhi kondisi lingkungan permukiman yang padat dan lembap.
Kawasan seberang disebut menjadi salah satu wilayah dengan angka kasus relatif tinggi karena banyak rumah memiliki ventilasi buruk dan minim pencahayaan.
Kondisi tersebut dinilai menjadi ruang ideal bagi bakteri Mycobacterium tuberculosis bertahan lebih lama.
Untuk memutus rantai penyebaran, Pemkot Jambi menyiapkan kolaborasi lintas sektor melalui Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM), sekaligus program bedah rumah bagi penderita TB dari keluarga kurang mampu.
Fokus perbaikan diarahkan pada sirkulasi udara, pencahayaan, dan sanitasi rumah agar lebih sehat dan layak huni.
“Tuberkulosis ini jadi prioritas. Kita akselerasi dari kantor sampai rumah warga,” tegas Wali Kota.
Di sisi layanan kesehatan, seluruh puskesmas di Kota Jambi kini telah dilengkapi fasilitas pemeriksaan dahak. Pemerintah juga memperkuat pemeriksaan laboratorium untuk memastikan keberadaan bakteri penyebab TB, yang diperkuat dengan pemeriksaan rontgen.
Wali Kota mengingatkan bahaya pengobatan TB yang terputus di tengah jalan. Sebab, pasien diwajibkan menjalani terapi selama enam bulan penuh agar bakteri benar-benar hilang dan tidak berkembang menjadi TB resisten obat.