JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Anak yang terbiasa mengandalkan gawai dalam kehidupan sehari-hari berisiko menunjukkan reaksi emosional berlebihan (tantrum) saat penggunaannya dibatasi oleh orang tua.
Tidak sedikit, anak harus menangis hingga tersedu-sedu ketika terdapat larangan dalam menggunakan gawai, menandakan adanya ketergantungan yang mulai terbentuk sejak dini.
BACA JUGA:Harga Cabai di Tanjabtim Anjlok, Pasokan Melimpah
Pakar Perkembangan Anak, Remaja, dan Pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Novi Poespita Candra saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Minggu, mengatakan bahwa aktivitas yang melibatkan fisik dapat menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
“Ajak anak memiliki beragam aktivitas, mulai dari fisik, seni, sosial, hingga spiritual,” ujarnya.
BACA JUGA:Marak Pencurian AC di Komplek Perkantoran Bupati
Menurutnya, keterlibatan anak dalam aktivitas sehari-hari yang aktif dapat mengalihkan perhatian mereka dari gawai, sekaligus mendorong perkembangan sosial dan interaksi dengan lingkungan sekitar.
Selain itu, orang tua juga perlu memiliki keteguhan dalam pengasuhan dan tidak menjadikan gawai sebagai alat untuk menenangkan anak, terutama saat mengalami tantrum.
BACA JUGA:Bupati Anwar Sadat Tinjau Pelabuhan Roro dan Dermaga Parit Ponco
Pemerintah sendiri telah mengatur batasan penggunaan gawai bagi anak melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS), yang mulai berlaku pada 28 Maret 2026.
“Tidak mengenalkan gadget sampai umur 13 tahun. Kalau sudah terlanjur kenal, atur penggunaannya,” kata Novi.
BACA JUGA:Wisata Pemkab Kerinci Terpuruk, Pengunjung Beralih ke Swasta
Ia juga menekankan bahwa perilaku anak sangat dipengaruhi oleh contoh dari orang tua. Karena itu, orang tua diharapkan dapat menjadi teladan dalam penggunaan gawai.
“Anak berkembang dengan meniru. Orang tua harus menjadi role model, misalnya tidak memegang ponsel saat berinteraksi, serta mengajak anak melakukan berbagai aktivitas bersama,” tuturnya. (*)