Kembali ke Khittah Perkebunan
Penerapan prinsip tersebut tercermin dalam disiplin operasional di kebun. Manajemen PalmCo menekankan penerapan Best Management Practices secara konsisten, salah satunya melalui pengendalian ketat terhadap standar matang panen.
BACA JUGA:PalmCo Perkuat Digital Logistik Terintegrasi Tekan Biaya Operasional
Perusahaan memastikan tandan buah segar dipanen pada tingkat kematangan optimal untuk memperoleh rendemen minyak sawit (CPO) yang maksimal.
Pendekatan ini menandai pergeseran dari sekadar mengejar volume produksi menuju optimalisasi kualitas dan margin.
“Kita ingin setiap kilogram buah menghasilkan output CPO terbaik. Ini soal efisiensi dan daya saing,” kata Jatmiko.
Selain itu, disiplin anggaran diperketat dengan pendekatan cost effectiveness. Setiap pengeluaran diukur dampaknya terhadap laba per hektare, sehingga budaya efisiensi tertanam hingga ke level operasional.
BACA JUGA:Kombinasikan Riset, Inovasi dan Kemitraan Rakyat, PalmCo Dorong Hilirisasi Gambir Nasional
Organisasi Lincah dan Kolaboratif
Dalam struktur pascakonsolidasi PTPN Group, PalmCo juga menata ulang pola kerja organisasi. Sekat-sekat antarunit didorong untuk dihilangkan agar perusahaan bergerak lebih lincah dan solid.
“Kinerja individu penting, tetapi kolaborasi tim jauh lebih menentukan. Tidak ada ego sektoral. Semua unit harus bergerak sebagai satu kesatuan,” ujar Jatmiko.
BACA JUGA:PTPN IV PalmCo Pulihkan Trauma Korban Banjir Melalui Pondok Rangkul di Sumut
Pendekatan ini dinilai krusial untuk menghadapi dinamika industri sawit global yang kian kompetitif dan menuntut kecepatan respons.
Meski mencatatkan kinerja terbaik pada 2025, Jatmiko menegaskan capaian tersebut bukanlah tujuan akhir.
“Prestasi itu pijakan, bukan garis akhir. Kalau kita bekerja dengan benar dan menghasilkan nilai, reputasi akan mengikuti,” katanya.
Sejalan dengan Arah Transformasi PTPN Group