“Dari total 4,1 juta stut bibit sawit tersebut, 77 persen atau 3,2 jutanya diproduksi PPKS. Harapannya kita mampu terus memenuhi kebutuhan bibit unggul baik untuk areal replanting maupun areal baru yang diproyeksikan meningkat dari tahun ke tahun,” tambah Jatmiko lagi.
Selanjutnya penguatan berikutnya adalah di peremajaan sawit rakyat. Disampaikannya, PSR menjadi solusi utama atas rendahnya produktivitas CPO petani yang berada dikisaran 2-3 ton CPO/Ha/Tahun.
BACA JUGA:PTPN IV Regional 4 Jambi-Sumbar Sangat Peduli Disabilitas
“Sejak digulirkan di 2017 lalu, realisasi PSR Indonesia tertinggi hanya di 51% setahun dengan target 180 ribu Ha. Itu di 2020 lalu. Bahkan untuk 2024, targetnya turun ke 120 ribu Ha dengan realisasi hanya 18 ribu Ha,”tambahnya.
Oleh karenanya, menurut Jatmiko setidaknya diperlukan beberapa hal yang akan berdampak pada percepatan PSR yang diharapkan.
“Relaksasi syarat, penyelesaian sawit dalam kawasan, dan jaminan penyaluran bibit unggul. Tiga hal ini sangat penting untuk mengakselerasi PSR kita,” tukasnya.
Sementara itu di PTPN IV PalmCo sendiri, tercatat hingga semester satu tahun ini, telah berhasil membantu penerbitan rekomendasi teknis yang dibutuhkan petani dalam PSR mencapai 11 ribu Ha.
“Target kita hingga Desember nanti, 22 ribu Ha kebun petani mitra dapat mengikuti PSR. Harapannya sampai dengan 2029 bisa membantu peremajaan 86 ribu Ha kebun sawit rakyat,” ungkap Jatmiko.
Peningkatan produktivitas CPO nasional ini sendiri juga semakin signifikan dengan kebutuhan mandatory B35 bahkan B50 di tahun 2027 nanti.
“Pemerintah sudah mencanangkan kebijakan biodiesel dan kemandirian energi. B35 butuh 13,41 juta kilo liter biodiesel, B50 itu bisa sampai 2,11 juta kilo liter. Maka butuh tambahan alokasi 6,7 juta kilo liter biodiesel atau setara dengan 7,2 juta ton CPO. Ini kita harapkan tidak sampai mengganggu kebutuhan CPO untuk pangan. Maka sekali lagi, peningkatan produksi CPO nasional adalah keharusan,” pungkasnya.
Terakhir menurut mantan Direktur Utama PTPN V dan Direktur Keuangan PTPN III (Persero) itu, yang menjadi kunci penguatan industri sawit nasional adalah komitmen perusahaan terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
“Penerapan ESG menjadi jawaban terbaik untuk isu-isu dan pressure keberlanjutan yang terus menyertai industri ini,” ucap Jatmiko.
Dengan semua faktor penguat tersebut, Jatmiko meyakini pihaknya memegang porsi tersendiri dalam membangun sawit Indonesia ditengah gempuran global tersebut. Apalagi dengan porsi luasan PalmCo yang menjadi salah satu perusahaan dengan areal perkebunan sawit terluas di dunia yang mencapai 618 ribu Ha areal tertanam.
“Tidak bisa sendiri. Seluruh pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, perusahaan, hingga petani harus berkolaborasi, mengedepankan inovasi dan digitalisasi, sehingga kita mampu bersama-sama membangun industri sawit nasional yang menjadi anugerah bagi bangsa ini,” tutupnya.(*)