Sasaran Pertama Kwatisore, Kampung Habitat Hiu Paus

Jumat 04-04-2014,00:00 WIB
 Sasaran Pertama Kwatisore, Kampung Habitat Hiu Paus

 Jika tidak ada pelayaran, GB bersandar di Wasior. Di kota itulah kantor WWF Indonesia berada. \"Pada trip kali ini, kapal GB berangkat dari Wasior sejak 14 Maret lalu. Sampai April atau Mei masih akan jalan. Mengunjungi kampung-kampung,\" kata Beny Ahadian Noor, project manager WWF.

 Kapal GB sebelumnya adalah kapal program WWF di Alor, NTT. Sebelumnya bernama Koteklema, nama paus yang hidup di sana. Pada 2011, kapal tersebut dialihkan untuk mendukung program mereka di Papua.

 \"Koteklema lalu direnovasi. Dicat ulang oleh mahasiwa Universitas Petra Surabaya. Desainnya disesuaikan supaya bisa jadi ikon. Namanya juga diganti jadi Gurano Bintang,\" jelas Beny.

 Kapal GB digunakan sebagai sarana penunjang program konservasi di TNTC. Salah satunya tentang pendidikan lingkungan hidup.

 \"Biar bagaimana, konservasi tidak akan bisa jalan tanpa pendekatan jalur pendidikan. Targetnya memang untuk anak-anak SD. Tapi, tidak terbatas usia itu saja. Kalangan dewasa, kelompok agama, sampai pemerintah juga,\" ujarnya.

 Mengapa target utamanya adalah anak-anak\" Beny menjawab, merekalah yang kelak melanjutkan untuk menjaga, melestarikan, serta mengelola sumber daya alam kawasan yang mereka tempati.

 Jadi, setiap kapal itu berjalan, mereka selalu mampir ke kampung-kampung yang dilewati. Mereka mengajar ke sekolah-sekolah dasar di sana. Atau, jika tidak ada sekolah, mereka akan mengumpulkan anak-anak untuk kemudian diajari pentingnya konservasi lingkungan.

 \"Kapal ini menjalankan misi baik saat berlayar maupun saat berlabuh,\" ungkap Beny.

 Sasaran program tersebut adalah tujuh kampung. Tentu saja, untuk mengunjunginya, perjalanan harus ditempuh berjam-jam dengan kapal. Sebab, hanya itu satu-satunya akses menuju kampung-kampung terpencil tersebut.

 Kawasan TNTC sangat luas. Mencapai 1.453.500 hektare. Terdiri atas 18 pulau. Kampung-kampung itu tersebar dengan lokasi yang berjauhan. Ada yang sudah memiliki akses darat alias punya jalan darat, tapi banyak pula yang belum.

 Meski targetnya hanya tujuh kampung, biasanya kapal GB menjangkau lebih dari 20 kampung di TNTC. \"Diharapkan, kapal ini bisa memberikan suasana yang berbeda bagi warga di kampung-kampung itu yang jarang melihat dunia luar. Khususnya anak-anak,\" terangnya.

 Begitu kami tiba di kapal GB pada Rabu siang (19/3), saya diajak mengunjungi Kampung Kwatisore. Kami naik speedboat lagi sekitar 15 menit. Selain untuk menyampaikan surat izin berkegiatan, Cassie menemui \"anak buah\" di kampung itu.

 Dia memang memiliki beberapa orang lokal yang diminta menjadi tenaga pemantau hiu paus (TPHP). Di Kwatisore ada tiga TPHP. Mereka adalah Isac, Agus, dan Orpa. Cassie mendatangi mereka satu per satu untuk menanyakan progres pengambilan data tangkapan bagan. Plus, mengajak mereka untuk datang ke Gurano Bintang pada malamnya.

 Sambil mendatangi rumah mereka, kami berkeliling kampung. Di kampung itu ada sekitar 70 kepala keluarga. Ada sebuah sekolah dasar dan posyandu. Kebanyakan mata pencaharian penduduk adalah nelayan. Tapi, ada pula yang berburu.

 Malamnya, tenaga TPHP Kampung Kwatisore benar-benar datang. Mereka dijemput dengan speedboat oleh awak GB. Malam itu kami makan malam dengan menu soto ayam olahan koki Anto.

 Kami makan sambil ngobrol dan duduk di tepi kapal. Menikmati angin laut yang semilir. Brent terlihat sangat menikmati makanannya. Bule AS itu memang sudah beberapa kali mengunjungi Kwatisore dalam dua tahun terakhir. Dia sudah akrab dengan alam dan kondisi di sana. Termasuk makanannya.

Tags :
Kategori :

Terkait