Pemadaman Kebakaran Hutan Terkendala Pesawat

Kamis 18-09-2014,00:00 WIB

JAKARTA  -- Kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan masih berlangsung. Meski telah dilakukan pemadaman, hingga kini api masih belum dapat dipadamkan sepenuhnya. Hal itu disebabkan tidak dapat dilakukannya pemadaman api melalui pemboman air dari udara secara maksimal.

Kepala data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengemukakan, kendala itu muncul lantaran kurangnya pesawat untuk melakukan water boombing. Kekurangan ini terjadi karena, pesawat hercules yang biasa digunakan untuk membantu pemadaman kebakaran hutan ini sedang ditarik kembali oleh pihak TNI. Penarikan itu dikarenakan, pesawat akan digunakan untuk persiapan puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI nanti. \"Pesawat Hercules yang biasa digunakan punya TNI. Tapi sedang ditarik dan dalam masa perawatan untuk persiapan HUT TNI nanti,\" ujar sutopo di kantor BNPB kemarin.

Namun masalahnya, tak hanya pesawat Hercules milik TNI yang ditarik. Sejumlah pesawat Casa 212 milik Badan pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga sedang dirumahkan karena mengalami permasalahan. Kondisi ini yang kemudian mengakibatkan pihak BNPB kesulitan dalam memadamkan Api di Sumatera dan Kalimantan. \"Sementara kondisi kekeringan saat ini semakin memperparah kebakaran yang terjadi,\" katanya.

Menghadapi kondisi ini, Sutopo mengatakan bahwa pihaknya telah menghubungi beberapa pihak untuk dapat melakukan peminjaman pesawat. Salah satunya adalah Pelita Air. Tapi sayangnya, hal itu hingga kini tak kunjung mendapat kepastian.

BNPB pun akhirnya berencana untuk membawa dua pesawat amphibi dari negeri kanguru, Australia. Selain itu, BNPB juga akan meminta bantuan perusahaan-perusahaan sawit di wilayah kebakaran untuk turut berpern serta. \"BNPB akan menambah 2 pesawat Air Tractor dari Australia dan 3 helikopter Eurocopter dari perusahan di Riau,\" ungkapnya.

Untuk saat ini sendiri, pemadaman baru dilakukan dengan menggunakan 9 helikopter untuk water bombing. Helikopter Kamov, Sikorsky & MI-8 membawa 4.000 liter sekali pemboman. Sehari rata-rata 50 sorti penerbangan per helikopter. Namun hal itu masih dirasa kurang karena modifikasi cuaca oleh pesawat Hercules dan Cassa tidak bisa dilakukan.

Kebakaran hutan ini sendiri diakui Sutopo masih terus berulang meski upaya pencegahan telah dilakukan. Bahkan, menurutnya, para pelaku pembakaran juga telah ditangkap. Akan tetapi, sayangnya tidak sedikit pihak yang ikut terlibat. Salah satunya adalah kelompok-kelompok yang sengaja membakar hutan guna mendapat bantuan. \"Diduga ada sekelompok tertentu yang membakar untuk memperoleh dana dan kepentingan lain dari berbagai pihak. seperti LSM memanfaatkan isu lingkungan untuk mendapat bantuan dana,\" pungkasnya.

Selain itu, masih banyaknya warga yang melakukan pembakaran lahan pribadi guna membuka lahan sawit baru. Termasuk di dalamnya para perusahaan sawit yang diduga ikut terlibat.

Akibat kebakaran yang terjadi dalam tiga bulan terakahir ini sendiri, kerugian diperkirakan mencapai Rp 50 triliun. Kerugian itu mencakup seluruh wilayah kebakaran , mulai dari Sumatera hingga Kalimantan. \"Kalau kita hitung, ada 20 triliun itu hanya di Riau saja, itu baru 3 bulan dari Februari sampai April. Ini kalau kita hitung wilayah Indonesia mungkin bisa lebih dari Rp 50 triliun dampaknya dan kerugian itu kita hitung kalkulasinya,\" urainya.\"

Sutopo mengatakan, pemerintah bekerja sama dengan pemerintah daerah akan terus berusaha melakukan pemadaman. Selain itu, penegakan hukum juga tengah digalakkan tanpa pandang bulu. Saat ini sendiri, dari hasil pantauan satelit NOAA-18, masih terdapat 397 titik panas (Hot Spot) di Sumatera dan kalimantan. Jumlah ini memang menurun dibandingkan sebelumnya, sebesar 626 titik panas. kendati demikian, keluhan asap yang mengganggu pernafasan masih terus terjadi.

(mia)

Tags :
Kategori :

Terkait