Suasana hati Soheila berubah semakin baik seiring langkahnya, seolah cincin itu khusus dibuat untuknya. Dan tanpa Soheila tahu, seiring langkahnya pula, benang takdir mulai mengikat dan melilitinya secara perlahan. Jejak yang Soheila tinggalkan pun tak luput dari permainan takdir, bayangan kematian dan ketakutan terbesar Soheile mengikuti setiap tanda yang ditinggalkannya, tanpa Soheila tahu bahwa ia terjebak di ranah kehidupan tergelap yang pernah ada.
***
Ciel sedikit kesal karena keterlambatan supirnya dalam menjemput, walau sekarang ia duduk dengan nyaman di dalam brionya tetap saja Ciel merasa tidak senang, entah mengapa akhir – akhir ini Ciel merasa semua orang yang bekerja untuknnya tidak kompeten, bahkan Ciel sendiri merasa tidak puas. Dan juga, semua orang terlihat sangat menyebalkan untuk Ciel selama beberapa jam terakhir, bahkan satu bogeman yang dilayangkan Ciel untuk Adelard tadi tidak membuat dirinya merasa puas ataupun lega.
Memijit pelipisnya pelan, Ciel merasa sedikit frustasi. Untuk melampiaskan rasa frustasinya, Ciel mengambil sebatang rokok dan menyelipkan benda itu diantara bibirnya, saat tengah ingin memantik api di rokoknya, mata Ciel menangkap sosok seorang peremuan yang tengah memakai mantel dan sandal miliknya, tepatnya seperti mantel dan sandal miliknya. Ciel tahu bukan hanya dirinya yang memiliki mantel dan sandal tersebut, tapi entah mengapa Ciel yakin itu seperti miliknya. Mungkin saat ini orang – orang akan berpikirin Ciel gila karena benar – benar mengira jika mantel yang dipakai wanita itu adalah mantel miliknya.
Seorang wanita muda, kini sangat mencolok diantara kerumanan orang – orang yang berhasil mengubah atensi setiap orang kepadanya. Terlihat mencolok karena mantel tersebut seolah menenggelamkan tubuh wanita tersebut, walau tinggi, mantel tersebut tetap terlalu besar untuk dipakai oleh wanita yang memiliki tubuh seramping wanita itu. Dan siapa juga yang ingin menggunakan mantel tebal di tengah terik siang begini. Dengan cepat Ciel menyuruh supirnya untuk berhenti.
“Stop disini dulu pak, saya ada urusan” Suruh Ciel
Adelard menatap heran tuannya, tidak biasanya tuannya meminta turun di tengah jalan seperti ini secara tiba – tiba dan lagipula ada urusan apa tuannya di negara ini selain urusan bisnisnya, bahkan Adelard sengaja mengosongkan jadwal Ciel agar Ciel dapar beristirahat dan merasa lebih baik esok hari sebelum melihat progress perkembangan bisnisnya.
“Tapi Tuan-,” belum sempat Adelard berucap, Ciel segara melihatnya dengan tatapan menghunus, jika saja tatapan bisa membunuh maka Adelard yakin dirinya tidak akan selamat dari Ciel. Tidak ingin membuat Ciel lebih kesal, Adelard langsung memberi kode pada supir agar memberhentikan mobilnya dan dengan tergesa Ciel keluar untuk mengejar wanita tadi.
Ciel mengikuti wanita tersebut, namun anehnya wanita tersebut semakin cepat berjalan dan mau tidak mau Ciel pun harus sedikit lebih cepat melangkahkan kakinya. Seharusnya tidak sulit menggapai wanita tersebut, hanya saja banyak orang yang tidak sengaja memblokade jalannya sehingga ia harus menyelinap dan itu membuat Ciel bergerak sangat lambat.
Lama kelamaan Ciel merasa wanita tersebut berjalan semakin cepat dan berlari menjauh darinya. Ciel mencoba mengejar wanita tersebut, hanya beberapa langkah lagi sebelum Ciel menggapai tangan wanita tersebut, dirinya malah tersandung batu dan disaat yang bersamaan beberapa orang tidak sengaja menubruk tubuhnya. Untungnya Ciel hanya sedikit terhuyung dan tidak sempat jatuh ke tanah, karena jika iya itu akan terasa sangat memalukan. Naas, Ciel kehilangan wanita tersebut.
Sial! Umpat Ciel.
Mencoba mencari wanita tadi, Ciel menelisik lingkungannya saat ini, namun nihil, Ciel tidak mendapati apapun. Dengan kesal Ciel meninggalkan tempatnya dan kembali berjalan menuju mobilnya. Belum beberapa saat Ciel merasa kesal, kekesalannya harus bertambah karena saat berbalik seorang anak yang sedang di gendong ibunya tidak sengaja menumpahkan minuman ke jas Ciel.
Ingin sekali Ciel berteriak \"Jaga anakmu dengan baik, dasar Bitch!\", hanya saja perkataan itu tidak jadi dia utarakan melihat anak itu meminta maaf dan merasa bersalah begitupula ibunya. Ciel hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan ibu dan anak itu. Hingga Ciel sadar dia tidak tahu arah menuju dimana mobilnya tadi yang menjadi titik awal perjalanannya dan rasanya tidak cukup hanya memaki orang untuk saat ini, dan sialnya lagi Ciel lupa membawa ponselnya.
Triple Shit!