Until Today

Senin 19-04-2021,00:00 WIB

 

-we are one, without you I am not me, and without me you are not you-

~untiltoday

 “

SUDAH dua jam lamanya Soheila menatap kendaraan yang berlalu – lalang di jalan, di sebuah kursi taman tak jauh dari bandara Soekarno – Hatta, Soheila memutuskan untuk beristirahat sejenak dan mencoba kembali menjernihkan pikirannya yang kacau. Selama penerbangan tidak sedikitpun Soheila menurunkan kewaspadaan terhadap sekitarnya, takut jika orang – orang suruhan Dave masih mengikutinya.

Merasa aman dan yakin, Soheila sedikit demi sedikit menurunkan kewaspadaanya dan bernafas lega kala yakin bahwa dirinya tidak lagi diikuti. Soheila merasa haus dan juga lapar, namun disaat bersamaan tenaganya habis bahkan rasanya untuk berdiri saja tak sanggup, dan lagipula tak satupun ada yang dapat dihubunginya untuk meminta tolong. Soheila mencoba meraba kantong mantel yang sekarang tengah ia pegang, berharap ada makanan ringan yang tertinggal. Nihil, Soheila tidak mendapat apapun hingga tangannya merasakan benda kecil yang sedikit keras. Merasa penasaran Soheila melihat benda apa yang ada didalam saku mantel yang dicurinya ini.

 “Cincin?” monolog Soheila, bertanya – Tanya mengapa ada cincin di saku mantelnya, yap, dapat dikatakan untuk sekarang mantel itu menjadi miliknya, lagipula ia menukaran seluruh isi kopernya hanya untuk mantel yang sekarang ia pegang. Mencoba memikirkan apakah ia membawa cincin, Soheila mecoba mengingat, dan sadar bahwa mungkin saja cincin yang ada di tangannya saat ini adalah cincin dari pemilik sebenarnya mantel yang ia ambil karena ia juga tidak merasa cincin itu miliknya.

 “Astaga!”

 “Apa mungkin ini cincin pemilik mantel ini?”

 “Tapi, rasanya tidak mungkin jika seseorang laki – laki memakai cincin sefeminim ini,”

 Masih berkutat dengan pikirannya dan barulah Soheila sadar, bisa saja cincin ini adalah cincin yang nantinya digunakan untuk melamar. Soheila sudah menghancurkan momen bahagia seseorang. Dan alasan mengapa Soheila mengatakan bahwa pemilik asli mantelnya laki – laki itu terlihat dari aroma Woody dengan sedikit campuran Cinnamon di mantel itu yang Soheila yakin itu adalah aroma parfum, terlalu manly untuk digunakan oleh seorang perempuan. Lagi pula, model mantel itu tidak terlihat seperti model mantel perempuan.

 “Apa aku menghancurkan momen bahagia seseorang?” Tanya Soheila entah pada siapa.

 Soheila merasa sedih juga frustasi disaat yang bersamaan. Bagaimana tidak, jika benar cincin yang ia pegang kini merupakan cincin yang dipersiapkan untuk melamar seseorang, Soheila akan merasa sangat bersalah. Lagi – lagi Soheila merampas kebahagian orang lain, tepatnya menghancurkan kebahagian orang lain. Dengan langkah gontai, Soheila meninggalkan taman, menuju toko terdekat untuk membeli nomor ponsel yang baru dan mengisi perutnya jika ia tidak ingin mati konyol karena kelaparan.

 Soheila memasangkan cincin yang ia temui tadi di jari manisnya, memastikan cincin tersebut benar – benar terpasang dengan baik. Cantik, satu kata yang terpintas di benak Soheila saat melihat cincin itu terpasang sangat pas di jari manisnya. Soheila berjanji akan menjaga cincin tersebut sebelum cincin itu kembali kepada pemilik yang sesungguhnya, dan Soheila berharap ia benar – benar dapat mengembalikannya. Setidaknya biarkan Soheila bertemu dengan pemiliknya barang sekali saja untuk berterimakasih.

Tags :
Kategori :

Terkait