Until Today

Senin 26-04-2021,00:00 WIB

“Samakan saja,”

“Red Velvet?” Tanya Soheila, Ciel mengangguk.

Setelah pelayan datang, Soheila menyebutkan pesanan dirinya dan Ciel. “2 Red Velvet sedang” ucap Soheila, “dan satu jus alpukat.” Sambung Ciel. Setelah memastikan kembali pesanan Soheila dan Ciel, pelayan itu akhirnya pergi dan menyiapkan pesanan Soheila dan Ciel

“Belum, tapi Nenek tua itu menawarkanku pekerjaan di butiknya,” Ujar Soheila menjawab pertanyaan Ciel yang tertunda tadi.

“Sebagai apa?”

“Manejer sekaligus desainer” jawab Soheila.

“Tak ingin menerimanya?” Tanya Ciel heran.

“Ingin, hanya saja aku belum menemukan tujuan yang pasti untuk apa aku menerima pekerjaan dari nenek tua itu.” Mendengar respon Soheila, Ciel mengerenyit heran.

“Kau tau, aku bukan seseorang yang melakukan pekerjaan sesuai passion ataupun kemampuanku. Aku studi di bidang Fashion Design namun bukan berarti aku akan menerima dengan suka rela pekerjaan sebagai desaigner. Aku perlu tujuan mengapa aku mengambilnya. Sama seperti saat aku mendapat sebuah kesempatan untuk pergi ke kanada, aku memiliki tujuan dan itulah mengapa aku pergi dan tinggal ke kanada.” Jelas Soheila.

“Jadi apa tujuanmu ke Indonesia, bukankah segala tindakanmu harus memiliki tujuan, jadi apa tujuanmu ke sini?” Tanya Ciel.

Soheila tersenyum tipis, “Pelarian,” Ucapnya.

Hendak bertanya karena tidak puas atas jawaban Soheila, Pertanyaan Ciel harus terpotong oleh kedatangan pelayan yang membawa pesanan mereka. Setelah disajikan, Soheila berterimakasih pada pelayan tersebut dan tersenyum manis.

“Jadi pelarian tadi, apa yang kau maksud dengan pelarian.” Tanya Ciel sambil memotong red velvetnya begitupula dengan Soheila.

“Apa itu kurang jelas, aku tengah lari dari sesuatu.” Jawab Soheila.

“Boleh jika aku meminta diperjelas?”

“Apakah ini sebuah pemaksaan?”

Tags :
Kategori :

Terkait