-aku memang tidak mengucapkan kata terimakasih, namun percayalah dari segala tindak tandak perlakukanku untukmu adalah bentuk ucapan terimakasihku atas segala waktu bersamamu-
-Adelard
Ciel yang mendengar suara teriakan Soheila panik, telpon yang terputus secara sepihak semakin membuat Ciel kalang kabut takut terjadi hal – hal yang tidak diinginkan pada Soheila. Tanpa memikirkan apapun, Ciel bergegas meninggalkan kafe, dan ingatkan Ciel untuk kembali karena dia belum membayar pesanannya dan Adelard.
Ciel menyusuri bandara dan tidak perlu lama Ciel mendapati Soheila yang menunjuk dirinya, dan pria yang berhadapan dengan Soheila juga melihat dirinya, itu Adelard. Melihat Soheil bersama Adelard, Ciel memelankan langkahnya namun tak berlangsung lama Ciel menyadari senyum smirk oleh Adelard dan Ciel melihatnya, Adelard memuluk Soheila layaknya seorang pria yang posesif terhadap wanitanya, dan melihat respon Soheila yang tidak menolak ataupun risih membuat Ciel lari lebih terburu – terburu.
“Keparat Sialan! beraninya kau memeluk Soheila bahkan aku belum pernah memeluknya!” teriak Ciel sambil memukul kepala belakang Adelard keras.
Adelard meringis, pukulan Ciel tidak main kuatnya, “Argh, Sakit bodoh,”
Soheila pun melancarkan aksinya, masih dengan pinggang yang dirangkul oleh Adelard, Soheila mengusap kepala belakang Adelard, “apa sakit sayang?” Tanya Soheila dengan nada yang dibuat sekhawatir mungkin.
Ciel menganga tidak percaya pada apa yang dihadapannya saat ini dana pa yang didengarnya tadi. SAYANG?! Astaga, yang benar saja, bagaimana mungkin Soheila memanggil Adelard dengan sebutan sayang jika saja ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. Kecuali, Ciel tidak menginginkan opsi terkahir itu dan memutuskan untuk membung pikiraanya itu jauh – jauh.
“SAYANG?! Kalian bergurau?!” Tanya Ciel menahan amarah, ingin sekali melayangkan ribuan tinjuan kepada sahabtnya.
“Bergurau?” Tanya Soheila bingung, “Kau buta?! Lihat, Adelard kesakitan karena kau! Dan kau mengapa kau memukul Adelard tiba tiba, jika terjadi sesuatu pada calon suamiku aku tidak akan segan – segan menghancurkanmu!” Sarkas Soheila pada Ciel.
Ciel seolah kekurangan oksigen mendengar perkataan Soheila, Calon Suami? Yang benar saja, Wajah Ciel memerah, apa ini alasan Adelard seperti menghalanginya untuk dekat dengan Soheila.
Ciel geram, wajahnya memerah menahan amarah. Tangannya terkepal melihat interaksi antara Adelard dan Soheila. Ciel merasa dikhianati, seharusnya Adelard mengatakan tentang hubungannya dan Soheila sedari awal.
“Hahahahahahaha,” akhirnya tawa Adelard dan Soheila pecah setelah melihat wajah Ciel.
“Wajahmu, astaga!” ucap Adelard masih tertawa memegan perutnya, begitupula dengan Soheila.
“kau benar – benar menggemaskan,” ujar Soheila sambil mencubit kedua pipi Ciel, Blush, Ciel memerah karena perlakuan Soheila. Asyik tertawa, Soheila tidak menyadari jika Ciel salah tingkah.