“Aku hampir melupakannya Ciel, Hari itu aku sempat bertengkar dengan nenek Ciel, siang itu aku mengikuti nenek dan mendapati nenek bertemu dengan Samuel di rumah tua. Dan malam itu Samuel juga mengatakan dia menitipkan pesan kepadaku agar menyampaikan kepada wanita tua bahwa Samuel menyayangi nenek tua itu lebih dari apapun di dunia ini.” Jelas Soheila.
“Ya dan kenapa aku bisa melupakannya.” Lanjut Soheila lagi dan menepuk jidatnya.
“Apa yang kau maksud itu nenek tua menyebalkan.” Tanya Ciel penasaran.
“Iya, aku pikir itu nenek, ayo kita tanyakan.” Ujar Soheila segera menarik Ciel untuk menemui Mariana di belakang. Baru saja berdiri, Soheila dan Ciel dikejutkan dengan Mariana yang menangis di balik dinding penyekat ruang tamu dan dapur.
“Samuel,” lirih Mariana pelan dengan tangis yang siapapun mendengarnya juga ikut merasakan kesedihan Mariana.
“Nenek,” Ujar Soheila pelan segera memeluk Mariana yang sudah terduduk sambil menahan tangisnya. Ciel pun turut menenangkan Mariana dengan mengusap punggung Mariana lembut.
“Samuel,” panggil Mariana berulang kali dalam tangisnya. Soheila yang tidak mengerti dengan situasi sekarang hanya berusaha menenangkan Mariana dengan segenap kemampuannya. Melihat Mariana, jujur saja Soheila juga ingin ikut menangis, namun dirinya menahan air matanya untuk tidak tumpah di depan Mariana.
“Samuel menyayangimu Soheila, lebih dari apapun itu.” Ujar Mariana dalam tangisnya sambil menepuk dadanya sesekali guna mengurangi rasa sesak yang ia rasakan.
“kau adalah adik, kakak, sahabat dan wanita yang ingin dijadikannya teman hidupnya!” teriak Mariana, meramas bahu Soheila yang terkejut mendengar ucapan yang keluar dari Mariana.
“Apa kau tidak tahu itu Soheila!” Teriak Mariana sekali lagi,
“Apa kau tahu Soheila, hanya karenamu, aku harus kehilangan putraku, cucuku, jiwaku, aku harus kehilangan Samuel Soheila!” Histeris Mariana, menumpahkan segala yang ia tahan selama ini sendirian. Bagaimana sesak dan sakitnya kala dia harus kehilangan Samuel di depan matanya tanpa bisa menyelamatkan belahan hati dan jiwanya, Mariana tidak berdaya kala Samuel membutuhkan bantuannya.
Mariana tidak menyalahkan Soheila, hanya saja ia bingung bagaimana ia mengungkapkan segala yang ia pendam akhir – akhir ini, kehilangan membuatnya lupa untuk apa ia hidup, kehilangan membutnya ingin menyerah pada kedaan, Mariana putus asa, dan Soheila menjadi salah satu orang yang mendapat amukannya. Mariana tidak bermaksud hanya saja dirinya tidak dapat menahan perkataannya.
Soheila tertegun mendengernya, apa maksud dari semua perkataan dan ucapan Mariana. Soheila menangis dalam diam, membiarkan Mariana menyalahinya, Soheila tidak menampik dirinya sakit hati mendengar ucapan Mariana padanya, hanya saja Soheila memilih diam dengan air matanya yang ia tahan, membiarkan Mariana merasa lega walau hanya sesasaat.
Ciel yang mendapati perlkuan Mariana pada Soheila tidak tinggal diam, dirinya menarik Soheila menjauhi Mariana sedikit dan membuat Mariana meraung – raung di lantai, Soheila sedih melihat Mariana yang hancur, tidak tahan Soheila juga turut menangis dan membenamkan wajahnya di dekapan Ciel. Ciel tidak tahu bagaimana ia harus bersikap, terjebak diantara Soheila dan Mariana membuatnya gamang, dan memutuskan untuk membawa Soheila ke kamarnya lalu menyusul Mariana guna menenagkan Mariana yang terus histeris menggumam nama Samuel. (*)
Bersambung