Behind: Impossible

Minggu 06-06-2021,00:00 WIB

“Nih!” Beri Danu dengan sedikit menjaga jarak pada Kirana, waspada jika saja Kirana akan melempar kembali barang – barang kepadanya, mengingat betapa bringasnya Kirana tadi tanpa ampun melempari Danu dengan segala hal.

“Lo kasih Racun nggak nih?!” Tanya Kirana masih dengan sesegukan, walau mengangis Kirana tidak sedikitpun mengurangi nada tinggi pada suaranya.

“Ck, syukur dikasih!” Ujar Danu, “Mau apa nggak nih? Kalo nggak mau gue yang minum!” Tanya Danu, “Ngomong sama lo juga bikin haus!” lanjutnya.

“Nggak! Ogah! Entar yang ada gue mati keracunan!” Balas Kirana.

Dengan kesal Danu meminum air yang tadi ia tawarkan kepada Kirana,” Terserah lo!” Ucap Danu kesal.

“Dih cowo kok ngambek sih, baru air doang yang nggak diterima. Cupu banget!” ucap Kirana yang bermaksud untuk menyindir Danu.

“hmm” Dehem Danu yang sudah leleh menghadapi Kirana, lagipula Danu tak berniat untuk memperpanjang pertengkaran mereka. Danu mengambil posisi duduk di samping Kirana, entahlah hanya kebetulan atau tidak Danu hanya merasa ia harus duduk di sebelah Kirana dan tampaknya Kirana pun tak menolak.

“Gue capek,” Ujar Danu yang kini tengah duduk di samping Kirana.

“Sama,” Balas Kirana dengan hembusan nafas lelah.

“Astaga, panas banget!” Keluh Kirana, merasa pegal Kirana melakukan peregangan dengan merentangkan kedua tangannya, gemerincing gelang tangan Kirana menarik perhatian Danu. Karena merasa baru pertama kali melihat Kirana menggunakan gelang, Danu memperhatikan gelang tangan Kirana, sebuah bandul kupu – kupu yang taka sing terlihat menjadi salah satu hiasan yang menggantung di gelang Kirana.

“Kupu – kupu?” monolog Danu. Mencoba mengingat kapan Danu melihat bandul kupu – kupu yang sama karena merasa bahwa bandul kupu – kupu itu benar – benar familiar untuknya. Danu sedikit menarik kasar tangan Kirana untuk melihat gelang Kirana secara dekat.

“Awh… ”Rintih Kirana. Kirana yang melihat Danu menarik lengannya kasar ingin meneriaki Danu, namun melihat Danu begitu intens menatap gelangnya membuatnya segera menarik tangannya kasar dari genggaman tangan Danu.

“Lo!” Ujar Kirana, “Lo ngapain pegang – pegang tangan gue!” Lanjut Kirana. “Suka lo?” Tanya Kirana tidak santai.

Danu yang mendengar perkataan Kirana membuat Danu melupakan gelang Kirana dan membalas perkataan Kirana, “Lo nggak punya kaca ya? Apa mesti gue beliin kaca biar lo bisa ngaca?!” Ujar Danu jengkel.

“Apa lo-” Kirana yang ingin membalas perkataan Danu harus tertahan karena pintu kamar kosan yang terbuka secara tiba – tiba, dibalik pintu terdapat sosok Keken yang terkejut melihat keadaan kamarnya yang kini kata mengenaskan saja tidak cukup untuk menggambarkannya.

Keken menatap Danu dan Kirana bergantian, wajah Keken yang tadinya ceria dan tersenyum hangat kini menjadi wajah marah yang siap kapan saja untuk meladak. Dan secara bersamaan Danu dan Kirana menyesal tidak memikirkan waktu kapan Keken kembali pulang.

Tags :
Kategori :

Terkait