Behind: Impossible

Sabtu 19-06-2021,00:00 WIB

“Dahlah, bacot aja kalian, tuh liat Keken makin khawatir aja nungguin Kirana.” Ujar Doni, “coba telpon aja Ken.” Lanjut Doni lagi.

“Udah Don, daritadi gue telponin, nggak diangkat – angkat sekarang malah hpnya mati.” Ucap Keken dengan nada suara yang sangat khawatir.

“Bawa santai aja Ken, entar anaknya pasti balik, mungkin emang ada yang lagi penting banget buat di urus, kalo nggak balik, kita cari sama – sama entar,” Ujar Sanu, coba menenangkan Keken yang semakin panik tidak karuan.

“Udahan yuk, udah masuk jam makan siang nih, gue lapar, kafe depan kuy” ajak Mala.

“Wokeh,” jawab Doni, Sanu, dan Tsana bersamaan, sedang Keken hanya tersenyum menanggapi, gelisah menunggu Kirana.

***

Kirana duduk termenung di ruang tunggu bandara, entahlah perasaannya tidak karuan setelah mengantarkan kepergian Raja, kekasihnya dulu, yang selama ini selalu membantunya. Kirana melihat kalung yang diberikan raja, liontin mawar yang merupakan bunga favoritnya dan lagipula sangat sesuai dengan nama belakangnya Roseanna. Kirana membuka bagian dalam liontin tersebut, dan mendapati fotonya dengan wajah lamanya serta secarik kertas yang terjatuh dari dalamnya. Tulisan acak – acakan yang ada di kertas kecil tersebut merupakan tulisan yang sangat ia kenal, tulisan tangan raja.

To: Veera Rosseana

Gue harap lo nggak pernah lupa, kalo diri lo selalu sama Veera.

Kirana tersenyum kecil, Raja tak pernah berhenti untuk mengingatkan agar Kirana tidak lupa dengan dirinya dulu. Sejujurnya Kirana ingin menangis, namun air matanya terlalu kering untuk menangisi segala yang sudah ia lakukan, bahkan hatinya terasa hampa, tidak terasa sakit namun terlalu menyakitkan jika diucapkan, Kirana bahkan tidak tahu, apakah dirinya sekarang dapat dikatakan benar – benar hidup atau hanya sekedar raga tanpa jiwa? Kirana tidak tahu.

Dering telpon membuyarkan lamunan Kirana, dilihatnya ponselnya dan nama Keken serta beberapa panggilan tak terjawab berasal dari Keken. Kirana sedang tidak ingin diganggu, bahkan oleh Keken sekalipun. Namun, Keken terus menelponnya, tidak hanya itu, sedari tadi pesan masuk dari Keken tidak berhenti, Kirana memutuskan untuk mematikan ponselnya dan memutuskan untuk kembali ke kantor.

Sebelum benar – benar meninggalkan bandara, Kirana menatap lekat dimana ia dan raja terkahir kali bertemu, takdir memang menyakitkan, kadang ia membiarkan kita jatuh ke dalam rasa senang lalu bahagia hingga kita lupa bahwa rasa sakit itu sebenarnya ada, dan tiba – tiba, tanpa pemberitahuan, rasa sakit itu menjumpai, menyelimuti hingga melilit kita, hingga kita bertanya – Tanya, sebenarnya seperti apa rasa sakit itu, lagi?

***

Saat kembali setelah makan siang, Keken mendapati Kirana berjalan menuju kantor, segera Keken meninggalkan teman – temannya dan menyusul Kirana yang mungkin sudah sampai di kantornya. Keken berlari dan bahkan tidak sengaja menabrak orang – orang kala ingin menyebrang, berhasil menyebrang dan melewati kerumanan orang – orang, Keken harus beberapa kali tersandung karena berlari menggunakan heelsnya.

Saat ingin memasuki lift, tidak sengaja Keken kembali tersandung karena heelsnya yang membuatnya hampir saja mencium lanti jika saja tidak ada orang yang menahan tubuhnya saat ini, segera Keken berdiri dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.

“Maaf, Maaf saya nggak sengaja, dan makasih sudah nolongin saya,” ujar Keken tanpa melihat orang yang menolongnya, namun tangan Keken dicekal oleh orang yang menolongnya.

Tags :
Kategori :

Terkait