Behind: Impossible

Jumat 02-07-2021,00:00 WIB

Danu menatap Keken marah, matanya memerah, bukan karena ia benar – benar marah dan muak, namun Danu tengah menahan tangisnya mati – matian. Keken mulai kehilangan nafasnya, ditepuknya Tangan Danu berkali – kali, mata Keken memerah, tangisnya mulai terisak meminta dilepaskan.

Danu menatap Keken seksama, wajah Keken dan Rena tidaklah jauh berbeda, mereka mendominasi wajah ayah mereka, saat itu Danu berharap kedatangan Keken dapat menggatikan kehadiran Rena. Senyum serta tawa yang sama pada Keken membuat rasa rindu terobati dengan kehadiran Keken. Namun, disaat yang sama kehadiran Keken selalu mengingatkan perjuangan Rena dalam kehidupannya, ketidakadilan yang tidak pernah Danu dapatkan keadilannya. Danu membenci Keken.

Keken terus meronta dan menangis, detik dimana Keken pasrah diaat itu Danu melepaskan cekikannya pada Keken. Dafa segera berlari menuju tempat Keken dan Danu, lalu segera memeriksa keadaan Keken. Keken terduduk lemas dengan tubuh gemetar, tangisnya tak bisa ia hentikan, menghadapi kematian dengan cara seperti itu tidak pernah terpintas di otaknya. Sedang Danu hanya mendecih kesal menatap Keken dan Dafa.

“Lo gila?” tanya Dafa kesal ingin memukul Danu, namun tangan Keken yang gemetar menahannya membuat Dafa mengurungkan niatnya.

“Veera,” Ucap Danu tiba – tiba, “Gue benci kakak lo Veera Ken, Gue benci, gue benci Veera Cuma bisa peduli sama lo, padahal Veera juga punya adik selain lo, dia nggak pernah ngelirik Rena sama sekali padahal Rena sesayang itu sama dia. Gue benci kehilangan Ken,” Isak Danu terduduk seolah ia tak sanggup lagi menahan apa yang ia sembunyikan di dalam hatinya.

“Jln Vineta, rumah nomor 131,” Ucap Danu menatap Keken sambil mengulurkan tangannya membantu Keken berdiri, awalnya Keken ragu untuk menerima uluran tangan Danu namun Keken tetap menerimanya. Setelah berhasil berdiri dengan bantuan Keken dan topangan tubuh Dafa, Keken tersenyum tipis.

“Datang kesana, dan lo bakal tahu sehancur apa keluarga lo,” suruh Danu pada Keken, setelahnya Danu menatap Dafa, “Amanda Roseana, anak Amanda Roseana itu kan yang selama ini lo cari?” Tanya Danu pada Dafa, Dafa yang mendengar pertanyaan Danu terkejut, bertanya – tanya darimana Dafa tahu.

Danu memperlihatkan gelang dan kalung yang tengah Keken kenakan pada Dafa, “adiknya Amanda Keken,” ucap Danu.

“Veera Roseana atau harus gue panggil Kirana?” Ucap Danu lagi pada Dafa seolah memberi kunci pada apa yang selama ini Dafa cari.

Danu mengusap kepala Keken, “Maaf buat yang tadi,” sesal Danu. “Tolong bilangin ke Sanu nanti kalo masih ada dia disana, maaf karena gue nggak pernah bisa jadi kembaran dan saudara yang baik buat dia, gue bakal pergi untuk sementara waktu, jangan cari gue, gue bakal balik kalo gue merasa hati gue udah merasa baik – baik aja, semuanya sekarang sulit buat gue, dan gue nggak mau jadi monster untuk keluarga gue nanti,” lanjut Danu sambil tersenyum manis.

“Gue titip adek gue sama lo Daf, restu gue menyertai,” Ujar Danu tiba – tiba pada Dafa, yang membuat Dafa gamang mendengarnya. Danu mengambil beberapa langkah kebelakang dan menyatukan Keken dan Dafa dalam bingkai yang dibuat dengan jarinya, menyatukan jeri telunjuk dan jempolnya.

“Amanda Keken dan Dafa yang gue lupa nama lengkapnya,” ujar Danu melihat Keken dan Dafa dari persegi yang ia buat dengan jarinya, “Not bad,” Komentarnya lagi dan berlari menjauh setelahnya meninggalkan Dafa dan Keken dengan penuh tanya. (*)

Bersambung

 

 

 

Tags :
Kategori :

Terkait