Kamis 22-07-2021,00:00 WIB

“Dapat dari Jeje lagi ya?” Tanya Windi, “Nggak kreatif, masa dapat dari Jeje mulu.” Lanjut Windi.

“Nggak,” Jawab Cipta, “Yang ini buat sendiri,” Sanggah Cipta.

“Pantes,” gumam Windi pelan namun masih terdengar oleh Cipta.

“Pantes?” bingung Cipta.

“Iya, Pantes nggak nyambung, jayus pula.” Komentar Windi dengan wajah mengejek pada Cipta, mendengar ejekan Windi, Cipta tertawa, tidak ada yang perlu dimasukkan ke hati, karena Cipta tahu Windi hanya bercanda semata, jika yang dikatakan Windi benar adanya, bolehkan Cipta tanya sebuah alasan mengapa pipi Windi bersemu merah?

“Cipta,” panggil Windi, “Ya?” Sahut Cipta.

“Kamarin, Windi nggak sengaja ketemu Saka disekolah, di warung Bi Jam,” belum selesai perkataan Windi, Cipta menyela perkataan Windi.

“Kalo udah di warung Bi Jam bukan di sekolah namanya, dibelakang sekolah.” Sela Cipta, Windi hanya memutar bola matanya malas.

“Iya, iya,” pasrah Windi, “Jadi, kamaren Saka keliatan banyak beban pikiran, soalnya dia Cuma melamun terus ngehela nafas. Waktu itu mau Windi samperin, tapi Windi takut Saka malah jadi ilfil sama Windi, jadi cuma Windi liatin sampe Saka akhirnya nyamperin Windi waktu kita nggak sengaja tatapan, Saka ada cerita apa – apa nggak ke Cipta?” Jelas Windi melanjutkan ceritanya yang disela oleh Cipta tadi.

“Saka nggak ada cerita sama Cipta, apa yang Saka bilang emang?” tanya Cipta,

“Cuma nanyain Cipta dimana?” Jawab Windi.

“Terus Windi jawab apa?”

“Windi bilang nggak tahu, mungkin udah pulang.”

“Lalu?” Tanya Cipta lagi.

“Waktu itu Cipta kemana? Windi jadi khawatir sama Saka, soalnya Windi nggak ngeliat Jeje juga.” Ujar Windi.

“Iya, lain kali nggak,” patuh Cipta, mendengar penuturan Windi, ada secuil di sudut hati Cipta merasa tersentil, bukankah seharusnya Cipta mengetahui konsekuensi perbuatanya dari awal, sepatutnya Cipta tak merasa menyesal, hanya saja ada sebagian dirinya merasa marah, tak terima. Segala yang melibatkan hati itu rumit, selain selalu melawan logika, ada jeda rasa sakit luar biasa. Datangnya tak dikira – kira, tau – taunya kita sudah merasakannya saja, sedahsyat itu, padahal hanya tentang perihal cinta dua insan manusia.

Tags :
Kategori :

Terkait