Rabu 28-07-2021,00:00 WIB

Suara teriakan Jeje dan Cipta yang saling sewot dan menyolot satu sama lain menjadi musik penghibur bagi Ayah, Bunda, dan Magenta yang sedang sarapan dengan khidmat di meja makan.

“Bisa – bisanya mereka masih debat,” Heran Ayah pada kelakuan Cipta dan Jeje. Wajar Saja jika Cipta dan Jeje terasa sangat klop dan pas, ibarat lauk dan garam, terasa hambar jika dipisahkan. Atau ibarat sempak dan celana, jika hanya memakai celana tanpa sempak maka terasa aneh, namun memakai sempak tanpa celana juga sama saja, selain aneh, dan tidak nyaman. Bisa – bisa di cap gila karena tak malu. Memikirkannya membuat ayah tak habis pikir.

Bunda hanya tertawa, melihat Cipta dan Jeje meningatkan bunda pada orang gila yang juga sering teriak di pasar tempat biasa Bunda belanja, bahkan teriakan orang gila itu juga sempat Viral karena terlihat lucu, dan bunda semakin tidak bisa menahan gelak tawanya.

Sementara Magenta menatap iba pada Cipta dan Jeje yang terlihat seperti orang kesetanan, berpikir apakah saat pembagian otak dan akhlak oleh tuhan, Jeje dan Cipta mangkir dari antrian sehingga mereka terlahir minim otak dan akhlak seperti itu. Sedang saat Magenta melihat Ayah dan Bunda Cipta yang terkikik lucu, Megenta mengulas senyum hangat, lama tidak merasakan rasanya berkumpul bersama keluarga. Satu dari sekian banyak hal yang disukai Magenta jika berada di rumah Cipta, pulang. Rumah Cipta itu seperti tempat pulang, hanya ada tawa, dan kebahagiann paling sederhana yang mengisinya.

Ocehan cerewat bunda, pertengkaran Cipta dan Ayah, aroma masakan yang selalu menggugah selera, walau menu makanan yang tersaji hanya resep – resep sederhana makanan nusantara. Semuanya terasa pas, nyaman dan hangat. Mungkin, jika nanti kehidupan kedua itu memang ada, Magenta berharap ia lahir di tengah keluarga Cipta. setidaknya, jikapun tidak, Magenta ingin lahir di keluarga sederhana yang tau apa itu arti cinta dan kasih sayang. Tidak perlu rumah mewah dan harta berlimpah, hanya tempat tinggal sederhana dengan mama dan papa, maka itu sempurna untuk Magenta.

***

Bunda dan Ayah masih terkikik geli, ditambah eksperesi Jeje dan Cipta yang memberengut kesal di kursi belakang mobil. Sedang Magenta yang terjebak di tengah – tengah Cipta dan Jeje memutar bola matanya malas, bosan dengan drama dramatis yang dibuat oleh Cipta dan Jeje.

“Bisa – bisanya bunda ngebohongin Cipta! Bunda kan yang bilang bohong itu dosa?!” Ujar Cipta kesal dengan tangan kedua tangan yang terlipat di depan dada, sama persis dengan posisi Cipta, Jeje turut mengeluarkan suaranya, “Tau tu bunda, tega banget, sakit hati Jeje,”

Bunda yang mendengar protesan dua pemuda tersebut semakin tergelak, “Bunda nggak bohong ya! Kan bunda liat jamnya, jam yang dikamar Cipta, salah Cipta dong,” elak Bunda.

“Iya ya bener juga, coba aja jam kamar Cipta benar nggak ada tuh gitu,” pikir Jeje, “Salah lo,” Tuduh Jeje yang ingin menoyor kepala Cipta namun malah mengenai Magenta.

“Eh, nggak sengaja.” Ucap Jeje cepat, “Parah lo, Bisa – bisanya kepala Magenta lo toyor sembarangan!” Balas Cipta menoyor kepala Jeje kuat. Cipta tidak sengaja terlalu kuat menoyor kepala Jeje hingga kepala Jeje terantuk keras, melihtanya Magenta melotot dan menoyor kepala Cipta kuat.

“Jangan toyor kepala anak orang sembarangan!!!” Kiranya begitulah arti pelototan Magenta jika diterjemahkan. Padahal Magenta sendiri tidak berpikir untuk menoyor kepala Cipta kuat.

“GUE KAN NGEBELAIN LO TA!” Kesala Cipta.

“APA LO?!” Tantang Jeje dengan Magenta yang berkacak pinggang serempak menoyor kepala Jeje dan Cipta kuat.

“KOK GUE?! DIA AJA DONG!!” Tunjuk Cipta pada Jeje.

“NAPA GUE?! LO AJALAH!” Nyolot Jeje kesal.

Tags :
Kategori :

Terkait