Jumat 30-07-2021,00:00 WIB

***

Kamar Cipta hening, dan seperti tabiat Cipta, Cipta tidak menyukai hening. Masing – masing peghuni kamar sibuk dengan merapikan barang – barang mereka, entah itu pakaian, bantal ataupun lainnya yang tidak ada dalam daftar kegiatan Cipta. Bawaan Cipta cukup simple, satu pakaian untuk lomba, dan Dua pakaian untuk sehari – hari terhitung tiga dengan yang dikenakannya. Dan koper Cipta penuh dengan snack dari Jeje. Sebenarnya bunda mengemasi barang Cipta dengan baik, hanya saja Cipta lebih menyukai barang bawaan Jeje yang membuat kopernya penuh, hingga pakaian yang dipersiapkan bunda harus Cipta tinggal. Ingat! Ini tanpa sepengetahuan bunda.

Cipta memakan snacknya sambil duduk di lantai, memperhatikan dua calon temannya yang sedari tadi hilir mudik di hadapannya, hampir 15 menit, Cipta menunggu masing – masing dari mereka selesai dengan urusan pribadi mereka. Dan salah seorang dari mereka, menghampiri Cipta.

Cipta ingat dengan baik senyum geli yang dilontarkan anak tersebut pada dirinya tadi, wajah anak itu oval dengan bulu mata lentik dan kulit yang menurut Cipta putih. Menurut Cipta, anak laki – laki ini sangat cantik, tingginya juga lumayan, hampir menyamai tinggi Cipta saat ini, mungkin selisih tinggi mereka hanya 2 atau 3 cm, tipis euy.

“Aksel,”

Cipta tersenyum tipis, ini juga merupakan salah satu alasan Cipta mengapa ia tidak suka dipanggil Aksel, terlalu pasaran. Lagipula, apa kerennya dipanggil Aksel? Bukankah panggilan Cipta jauh lebih unik?

“Cipta,” balas Cipta menjabat uluran tangan anak tersebut.

“Where are you from?” Tanya Aksel,

“Indonesia,”

“Oh sama kalo gitu,” Cipta dapat mendengar hela nafas lega dari Aksel dan perubahan bahasa yang cepat.

“Hah?” bingung Cipta, karena pilihan kata yang dilontarkan Aksel membuat Cipta bingung, seolah ada peserta yang berasal dari negara lain.

Melihat respon Cipta, Aksel terkekeh, “Oh … lo nggak tau ya kalo pesertanya dari banyak negara?”

“Tau, tapi bukannya yang dibimbing khusus peserta dari Indonesia?”

“Siapa bilang? Kalo pas dibandara sih iya, pas masuk lobi dan pembagian kamar semuanya campur. Noh liat noh, bule kanada satu, cueknya, ngelus dada.” Tunjuk Aksel dengan bibirnya pada anak laki – laki yang sibuk sendiri sedari tadi, sambil mencomot salah satu snack Cipta.

“Woi! Snack gue!” Protes Cipta.

“Yeelah, snack sebanyak ini juga nggak habis samo lo sendiri keules. Pelit amat dah bocah,” sibuk menikmati snack Cipta. sekilas kelakukan Aksel mirip dengan Jeje, dan membuat Cipta jadi terpikir tentang Jeje beberapa saat.

Tags :
Kategori :

Terkait