“Oke tunggu aja, gue nyusul.” Setelahnya panggilan Jeje dan Cipta terputus. Cipta menggeret kopernya yang terasa sangat ringan, 5 meter di depannya, Kafe tempat ia ingin makan sudah terlihat, dengan semangat Cipta melangkahkan kakinya lebih cepat.
“Akhirnya sampe,” gumam Cipta sambil membuka pintu kafenya, “Mbak pesen Caramel Praline Macchiato sama Mochi mini ya!” Pesan Cipta yang dibalas anggukan dan sapaan hangat dari perempuan cantik yang melayaninya.
Cipta memilih duduk di hadapan kaca kafe yang bertatapan langsung dengan lalu lalang jalanan, tujuannya agar Jeje mudah menemuinya. Padahal hari sudah sangat larut, namun masih banyak yang sepertinya enggan untuk beristirahat. Tak berapa lama Cipta mendapatkan pesanannya, Caramel Praline Macchiato dan Mochi mini dengan berbagai varian rasa, makanannya tampak menarik. Walau rasanya sangat aneh memakan Mochi di tengah malam. Satu gigitan Cipta bersamaan dengan kedatangan Jeje di seberang jalan kafe, melihat Jeje, Cipta melambaikan tangannya semangat yang dibalas tak kalah semangat oleh Jeje.
Dapat Cipta lihat, selendang bertuliskan ‘Happy Lose Cipta’ tengah Jeje gunakan dan sebuket bunga Anyelir putih yang Jeje genggam. Melihat kelakuan Jeje mengundang tawa Cipta. Dapat Cipta lihat bagaimana tergesanya Jeje turun dari ojek yang ia tumpangi dan berdecak kesal saat tidak mendapat kesempatan menyebrang sebab kendaraan terus hilik mudir dengan cepat. Saat melihat peluang, Jeje terburu – buru menyebarang yang disaat bersamaan sebuah mini bus melaju kencang, hanya butuh sepersekian detik untuk menyaksikan bagaimana peristawa itu terjadi.
BRAK!!!
BLAM!!!
BOOM!!!
***
Jeje tidak memliki alasan khusus mengapa ia begitu bersemangat untuk menemui Cipta. jika seandainya alasan itu harus ada, maka satu – satunya alasan yang dapat Jeje pikirkan adalah betapa ia tak sabar mengejek dan menggoda Cipta tentang kekalahannya. Tak lama lagi, Cipta akan segera tiba, dan Jeje memutuskan untuk datang lebih awal.
Jeje ingin menaiki motonya namun ia ingat bahwa ban motor itu kempes saat pulang dari rumah Cipta. Ingatkan Jeje untuk menambalnya nanti, karena Jeje sangat membutuhkan motornya itu. Jeje memesan Ojek Online dari ponselnya. Selagi menunggu Ojek pesanannya datang, Jeje mempersiapkan selendang khusus yang ia pesan untuk Cipta dan Bunga Anyelir putih yang ia beli di jalan.
Tak lama ojek pesanan Jeje datang, saat dirinya hampir sampai di bandara Jeje mendapat telpon dari Cipta bahwa Cipta menunggu dirinya di Kafe yang tak jauh dari bandara. Hingga, dapat Jeje temukan Cipta dibalik dinding kaca kafe tersebut tengah melambaikan tangan riang, tampak seperti wanita yang menunggu kekasihnya datang. Jeje juga turut melambaikan tangannya semangat.
“Jangan lupa bintang lima ya bang,” Ujar tukang ojek yang Jeje naiki, Jeje menunjukkan ponselnya pada tukang ojek yang tersebut, tertera disana bahwa Jeje memberi bintang lima untuk penilaiannya.
“Nih, udah ya bang!” Ucap Jeje, “Sip, Makasi bang, duluan!” Ujar Ojek tersebut berlalu pergi.
Jeje berniat ingin menyebrang jalan, sayangnya sedari tadi kendaraan begitu cepat berlalu lalang, walau tidak banyak, kecepatan kendaraan itu cukup membuat Jeje kewalahan untuk menyebrang, hingga saat jalanan terasa sepi, Jeje mendapatkan peluangnya untuk menyebrang. Disaat yang bersamaan Jeje, tidak melihat bahwa ada mini bus yang melaju kencang dari arah kanannya. Naas, langkah Jeje terhenti, hanya sesaat hingga Jeje merasa bahwa tubuhnya tak lagi ada padanya.
“Cipta,” (*)
Bersambung