Kamis 05-08-2021,00:00 WIB

“Jeje itu selalu punya cerita untuk semua orang yang pernah ada dalam lingkar kehidupannya, walau sekedar singgah, akan sangat mudah untuk mengingat Jeje dengan segala tingkahnya. Dan kehilangan Jeje adalah pilihan terkahir untuk sebuah cerita yang disajikan pada kisah bahagia”

-Cipta

>>>***<<<

Jeje tidak tahu sejak kapan ia sangat dekat dengan keluarga Cipta, mungkin karena seringnya Jeje menjadi teman main Cipta. Jeje dan bunda Cipta sangatlah dekat, bahkan hubungan Jeje dengan bunda Cipta terkesan lebih hangat dan kekeluargaan dibanding hubungannya dengan bunda kandungnya. Jeje terlalu banyak menghabiskan waktu sendirian di rumahnya, belajar mandiri mengurusi dirinya sejak kecil. Jeje tidak akan menuntut bundanya agar seperti bunda Cipta, karena Jeje tahu bahwa bundanya harus bekerja ekstra untuk biayanya dan biaya rumah sakit ayah.

Mungkin karena itulah bunda Cipta tidak keberatan dengan kehadiran Jeje, kata bunda Cipta. Jeje itu seperti anak sendiri, sudahlah sifatnya sama dengan Cipta, tingkah lakunya pun menyerupai layaknya saudara kembar. Jeje merasa beruntung bisa hadir di tengah keluarga Cipta, bagaiamana selama ini bunda terus memasakkan makanan kesukaanya disaat Bunda, Ayah, dan Cipta tidak memiliki selera yang sama. Dan jauh di dalam hati Jeje, Jeje menyayangi Bunda, Ayah dan Cipta lebih dari dirinya sendiri.

Jeje menyapu pandangannya pada seluruh kamar Cipta, masih sama dengan piano didekat meja belajar dan lampu tidur dengan hasil coretan tangan mereka. Bahkan foto kecilnya dengan Cipta masih terpajang di dinding kamar Cipta, lalu dapat Jeje temukan lagi foto mereka baru – baru ini di bingkai kecil di meja belajar Cipta. Jeje pikir akan ada foto Windi setidaknya satu, namun Cipta hanya menyimpan foto – fotonya dan foto masa kecil mereka.

“Cie…malu – malu kucing aja lo bilang nggak sayang sama gue, foto gue bejibun lo simpan!” gumam Jeje sendiri pada foto Cipta yang tersenyum lebar.

Jeje membersihkan kamar Cipta, tidak perlu waktu lama karena kamar Cipta memang sudah bersih. Jeje mulai menempeli dekorasi – dekorasi norak di dinding kamar Cipta dengan bentuk yang abstrak serta baleho besar tergantung bertuliskan ‘Happy Lose Loser, Dari Jeje untuk Cipta tersayang’ dihiasi dengan beberapa wajah aib Cipta. Jeje terkekeh melihat hasil karyanya, sentuhan terakhir Jeje menyembunyikan hadiahnya untuk Cipta dibawah piano Cipta. Setelahnya mengunci kamar Cipta, beberapa jam lagi, dan kejutannya akan sempurna dengan kehadiran Cipta.

***

Cipta sampai tengah malam di Indonesia, sekitar pukul setengah satu, saat mengingjakkan kaki di bandara, Magenta lebih dulu pergi karena keluarnya sudah menunggu kedatangannya dari beberapa jam sebelum Magenta tiba. Sepenting apa urusan keluarga Magenta hingga Magenta terlihat seperti orang penting yang sangat sibuk? Magenta hanya tersenyum tipis pada Cipta, Cipta memaklumi Magenta yang akhir – akhir ini Nampak terburu – buru.

Cipta mengeluarkan ponselnya, mendial kembali kontak dengan nama ‘Saudara Simpanse’ di ponselnya, dan beberapa saat terdengar nada yang menghubungkan panggilannya hingga suara Jeje terdengar.

“Dimana?” Tanya Jeje langsung,

“lagi jalan keluar bandara,” jawab Cipta,

“Gue entar lagi nyampe, gue naik gojek, tunggu seberang jalan bandara aja,” suruh Jeje.

“Gue tunggu di Kafe 24 jam yang nggak jauh dari bandara aja, gue lapar, sekalian beli makan,”

Tags :
Kategori :

Terkait