“Cipta pengen jadi abang,” Ujar Cipta sambil terisak, melihat tingkah lucu Cipta membuat Jeje tertawa, dicubitnya pipi Cipta gemas “Iya, Cipta yang jadi abang.” Ujar Jeje.
Mengingat itu, mengundang tawa Cipta. Dalam derasanya air mata Cipta ada derai tawa juga yang terdengar menyenangkan. Saat itu Cipta harusnya mengakui Jeje menjadi abang, karena nyatanya Jeje memang menjadi sosok abang paling sempurna. “Jeje makasih buat semuanya,” Bisik Cipta pelan di telinga Jeje, dipandangnya wajah Jeje lama, dan untuk terkahir kalinya, Cipta mengecup kening Jeje lama, dengan air mata bukti ketulusaanya, itu menjadi akhir dari segalanya tentang Cerita Cipta dan Jeje.
“Istirahat yang tenang ya bang!” lirih Cipta dengan isakan pelan, untuk terkahir kalinya, Cipta memeluk Jeje erat. Pelukan itu menjadi akhir kisah dari setiap lembaran yang Cipta dan Jeje buat. Pada akhirnya mereka sama – sama melepaskan, walau tak ingin, mereka harus, karena sakit yang mereka rasakan adalah awal kebangkitan.
Ia boleh tiada, Ia boleh tak lagi ada pada setiap harinya, namun kisahnya akan selalu hidup untuk semua yang menantinya. Mereka akan pulang untuk kembali bersama, membawa cerita untuk dikenang, lalu beristirah dengan tenang. Mungkin tidak sekarang, tapi esok akan menjadi satu yang pasti dimana kehilangan akan terus ada, dan kita hanya perlu bertahan sebelum akhirnya kita meninggalkan luka yang sama pada mereka yang kita tinggalkan.
Sebelum benar – benar pergi, Cipta melihat Jeje lagi, “Bukan selama tinggal, tapi sampai jumpa. Tunggu, Cipta pulang.” Bisik Cipta pelan. Jejek itu menjadi jejak awal Cipta dengan lembaran baru, sebuah kehidupan dimana ia membawa luka perihal kehilangan. (*)
Bersambung